Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Pendidikan Masa Pemerintahan Gus Dur

Gambar
Pendidikan pada masa pemerintahan  Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  ditandai dengan upaya mendasar untuk mengubah paradigma pendidikan yang sangat birokratis dan sentralistik di era sebelumnya menjadi sistem yang lebih  inklusif, pluralis, dan terdesentralisasi .   Fokus utama dan kebijakan pendidikan pada masa Gus Dur meliputi: Pendidikan yang Menghubungkan Agama dan Kehidupan Sosial : Gus Dur menekankan pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan realitas kehidupan sosial, menolak pendidikan yang hanya berfokus pada hafalan atau sains tanpa nilai etika dan moral. Desentralisasi Pengelolaan Pendidikan : Terdapat upaya untuk mendesentralisasikan pengelolaan pendidikan, memberikan otonomi yang lebih besar kepada daerah dan lembaga pendidikan untuk mengelola urusan mereka sendiri, berbeda dari pendekatan Orde Baru yang otoriter dan terpusat. Modernisasi dan Dinamisasi Pesantren : Salah satu kontribusi utamanya adalah mempopulerkan pesantren sebagai...

Filsafat Martabat tujuh dalam Paradigma Pendidikan Karakter

  ILSAFAT MARTABAT TUJUH DALAM PARADIGMA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS SPIRITUAL Oleh: Norhadi, S.Pd.I 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pendidikan modern saat ini menghadapi tantangan besar berupa degradasi moral dan spiritual di tengah kemajuan teknologi dan globalisasi. Nilai-nilai materialistik seringkali mendominasi orientasi pendidikan, sehingga pembentukan karakter manusia seutuhnya terpinggirkan. Padahal, tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah membentuk insan kamil, yaitu manusia yang utuh secara intelektual, moral, dan spiritual. Salah satu khazanah intelektual Islam yang menawarkan fondasi filosofis dan spiritual bagi pengembangan pendidikan karakter adalah filsafat Martabat Tujuh , yang berasal dari tradisi tasawuf falsafi. Filsafat ini menjelaskan proses emanasi dan tajallī (penampakan diri) Tuhan ke dalam tujuh tingkatan wujud, dari Dzat Mutlak (Ahadiyyah) hingga manifestasi sempurna dalam diri manusia (Insan Kamil). Martabat Tujuh bukan hanya si...

Filsafat Martabat tujuh ; Kajian Ontologis,Epistemologis,dan Aksiologis Dalam Tradisi Tasawuf

  FILSAFAT MARTABAT TUJUH: KAJIAN ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS, DAN AKSIOLOGIS DALAM TRADISI TASAWUF NUSANTARA Oleh: Norhadi, S.Pd.I 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Dalam khazanah intelektual Islam, filsafat dan tasawuf memiliki kedekatan yang mendalam. Filsafat berupaya menalar hakikat wujud melalui akal, sedangkan tasawuf menyingkap hakikat wujud melalui pengalaman batin. Di antara ajaran metafisik yang paling berpengaruh dalam dunia tasawuf adalah Filsafat Martabat Tujuh , yang merupakan ekspresi konseptual tentang proses tajallī (penampakan diri) Tuhan dalam tujuh tingkatan eksistensi. Konsep Martabat Tujuh pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1630 M) , seorang ulama besar Aceh dan murid spiritual Ibn ‘Arabi (w. 1240 M) melalui jaringan transmisi intelektual sufi di Timur Tengah. Ajaran ini kemudian diadaptasi oleh Hamzah Fansuri , Abdul Karim al-Jîlî , dan diperbincangkan secara kritis oleh Nuruddin al-Raniri . Dalam konteks Nusantara...
Gambar
judulnya Batu  

NEO SUFISME CAK NUR

Gambar
  Konsep neo-sufisme  Cak Nur   Konsep neo sufisme cak nur adalah pembaruan tasawuf yang menyeimbangkan antara kehidupan spiritual (ukhrawi) dan kehidupan duniawi, serta antara kesalehan individu dan kesalehan sosial . Pemikiran ini muncul sebagai respons atas tantangan modernitas, yang menawarkan spiritualitas yang relevan bagi masyarakat modern tanpa harus meninggalkan dunia.   Neo-sufisme Cak Nur secara lengkap memiliki beberapa karakteristik utama:   1. Menghidupkan kembali nilai salaf dan syariah Cak Nur mengapresiasi pemikiran neo-sufistik seperti Ibnu Taimiyah, yang dikenal karena mengaitkan tasawuf dengan syariat. Tujuannya adalah mengembalikan ajaran tasawuf ke dasar-dasar Al-Qur'an dan Sunnah, sehingga tasawuf tidak melenceng dari ajaran Islam yang autentik.   2. Sintesis antara tasawuf dan intelektualitas Tasawuf harus melibatkan akal (intelektual) sehingga tidak menjadi amalan spiritual yang kering, melainkan dapat menjawab tantangan zaman. Deng...