Manusia menurut m.iqbal
Muhammad Iqbal merupakan seorang penyair, filosof Islam dan politisi
yang menguasai bahasa Urdu, Arab dan Persia. Pemikirannya mengenai
kemunduran umat Islam berpengaruh pada gerakan pembaharuan dalam Islam.
Menurut pendapatnya, kemunduran umat Islam selama 500 tahun terakhir
ialah karena kebekuan dalam pemikiran. Hukum Islam dikatakannya sudah
statis. Menurut Iqbal, hukum Islam tidak bersifat statis, melainkan
dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, ia
berpendapat bahwa pintu ijtihat tidak tertutup. Sebab lain kemunduran
umat Islam menurut Iqbal ialah ajaran zuhud (zhud) yang terdapat dalam
tasawuf. Sikap zuhud dalam tasawuf mengajarkan bahwa perhatian kita
harus dipusatkan kepada Tuhan dan apa-apa yang berada di balik alam
materi. Ajaran itu akhirnya menyebabkan umat Islam kurang mementingkan
soal-soal kemasyarakatan. Dalam makalah ini memaparkan beberapa
pemikiran Muhammad Iqbal tidak hanya tentang pemikiran Islam tetapi
mengenai manusia dan pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi dari Muhammad Iqbal?
2. Bagaimana pemikiran filsafat tentang manusia menurut Iqbal?
3. Apa saja pemikiran filsafat Iqbal mengenai pendidikan?
C. Pembahasan
1. Biografi Muhammad Iqbal
Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, pada tanggal 9 Nopember 1877. Sialkot
adalah sebuah kota peninggalan Dinasti Mughal India yang sudah lama
pudar gemerlapnya. Ia terletak beberapa mil dari jammu dan Kashmir,
suatu kawasan yang kelak terus menerus menjadi sengketa antara India dan
pakistan. Kakeknya bernama Iqbal Syaikh Rariq (penjaja selenang berasal
dari Looehar, Kahmir). Penduduk Kasmir yang awalnya beragama Hindu
kemudian telah menganut agama Islam selama kurang lebih 500 tahun. Jika
di ikuti, jejak leluhur Iqbal berasal dari kalangan Brahma, Subkasta
Sapru. Ayahnya bernama Syaikh Nur Muhammad memiliki kedekatan dengan
kalangan Sufi karna kesalehannya dan kecerdasannya. Ia telah
mendapatkan binaan dan gemblengan dengan jiwa muda yang berhati baja
pleh Mulana Mir Hasan seorang ulama militan yang kawakan, teman ayahnya.
Ulama tersebut memberikan dorongan dan semangat yang mewarnai dan
mendasari jiwa Iqbal dengan ruh agama yang senantiasa bersemayam dalam
jiwanya, menggelora dalam hati anak muda, menentukan gerakan dan
langkah, tujuan dan arah. Keberhasilan ulama tersebut dalam membinanya
membawa kesan yang mendalam di hati Iqbal. Nama Iqbal semakin mencuat
dan menjadi terus bertambah populer di seluruh tanah air, setelah
sajaknya dimuat dalam majalah Maehan, suatu majalah yang memakai bahsa
Urdu. Melalui majalah tersebut nama beliau dikenal masyarakat luas
sehingga mendorong bagi majalah dan harian-harian lainnya untuk saling
berebut meminta izin akan menyiarkan sajak-sajaknya. Selain itu
pendidikan dari ibundanya yang bernama Imam Bibi yang dikenal sangat
religius memberikan pendidikan dasar tentang dan disiplin keIslaman yang
kuat tidak hanya kepada Iqbal tetapi kepada kelima anaknya yaitu dua
laki-laki dan tiga perempuan.
Setelah mendapatkan didikan dari
keluarga Iqbal disekolahkan di Maktab (surau) untuk belajar al-Qur’an.
Pendidikan formal Iqbal dimulai di Scottish Mission School di Sialkot.
Kemudian melanjutkan sekolah ke Lahore. Disini Iqbal belajar Governement
College yang diasuh oleh Thomas Arnold yaitu seorang orientalis yang
ternama dan mahir dibidang filsafat. Pada tahun 1897, ia memperoleh
gelar B.A (Bachelor of Arts). Ia mendapat medali emas sebagai
penghargaan karena prestasinya dalam ujian bahasa arab. Kemudian pada
tahun 1899 Iqbal memperoleh gelar M.A (Master of Arts) ia mendapat
medali emas pula dalam ujian magister ini. Kedekatan antara gutu dan
murid antara Iqbal dan Thomas Arnold sangat erat. Ketika Thomas Arnold
kembali ke Inggris, Iqbal merasa sedih dan kehilangan. Pada tahun 1905,
Iqbal melanjutkan studi di London di Universitas Cambrigde dan bidang
yang ditekuninya adalah filsafat moral. Ia mendapat bimbingan dari James
Wird dan seorang oe-Hegelian, James Tagart. Sebuah Universitas tertua
di Jepang, sempat mengnugerahkan gelar Sir pada tahun 1922. Universitas
Tokyo beberapa waktu berselang menganugerahkan gelas Doktor anumerta di
bidang sastra, yang pertama kalinya dilakukan oleh Universitas Tokyo.
2. Pemikiran filsafat tentang manusia menurut Iqbal
Manusia menurut Iqbal pembagian satu kesatuan hidup dan kesadaran juga
sebagai kesatuan energi, daya, atau kombinasi dari daya-daya yang
membentuk beragam susunan. Filsafat Iqbal pada intinya adalah filsafat
manusia yang bicara tentang diri atau ego. Menurut Iqbal ego adalah
kesatuan intuitif atau titik kesadaran pencerah yang menerangi pikiran,
perasaan, dan kehendak manusia. Kant juga mengemukakan hal yang serupa
bahwa, diri adalah substansi tetap yang melandasi puralitas pengalaman.
Misalnya pengalaman suatu obyek (kursi misalnya) yang melibatkan
pengalaman pereptual warna, rasa, dan bentuk mensyaratkan kesatuan
pengalaman-pengalaman tersebut pada sutu ego. Dengan kata lain tubuh
adalah tempat penumpukan tindakan-tindakan dan kebiasaan ego.
Menurut Iqbal kepribadian kita sesungguhnya adalah perbuatan. Watak
esensial ego, sebagaimana halnya ruh dalam konsepsi Islam adalah
memimpin karena ia bergerak dari amr (perintah) Ilahi. Artinya realitas
eksistensial manusia terletak dalam sikap keterpimpinan egonya dari yang
Ilahi melalui pertimbngan-pertimbangan, kehendak-kehendak,
tujuan-tujuan, dan apresiasinya. Maka ego adalah sesuatu yang dinamis,
ia mengorganisir dirinya berdasarkan waktu dan terbentuk, serta
didisiplinkan pengalaman sendiri. Setiap denyut pikiran baik masa
lampau, sekarang, adalah satu jalinan tak terpisahkan dari suatu ego
yang mengetahui dan memeras ingatannya. Jalinan kesatuan organis dari
keadaan-keadaan mental itulah yang merupakan manifestasi dari ego.
Iqbla menekankan bahwa kekekalan ego bukanlah suatu keadaan melainkan
proses. Penekanan ini dimaksudkan untuk menyeimbangkan dua kecendrungan
yang berbeda dari bangsa timur dan barat. Timur menyebut ego sebagai
bayangan atau ilusi, sementara itu bangsa-bangsa barat kata Iqbal berada
dalam proses pencarian sesuai dengan karekteristik berpikir
masing-masing, dalam konteks inilah Iqbal terlebih dahulu menyerang tiga
pemikiran tentang ego
1. Panteisme yang memandang ego manusia
sebagai noneksistensi sementara eksistensi sebenarnya adalah ego absolut
atau Tuhan. Sufisme pantaistik mengalami kesulitan filosofis karena
salah pengertian tentang watak sebenarnya dari diri yang relatif, bagi
Iqbal tafsir yang benar dari ungkapan Al-Hallaj “Anna al-Haqq” adalah
penegasan berani tentang realitas dan kemutlakan diri manusia dalam satu
kepribadian mendalam. Diri adalah engalaman terakhir yang nyata. Oleh
sebab itu penemuan diri adalah puncak pengalaman religius, sebab diri
itulah yang mengadakan relasi dengan realitas ultim. Pengalaman menuju
penemuan tersebut merupakan fakata vital-bukan intelektual karena
berasal dari kehidupan esoteris yang bersifat supralogis.
2. Aliran
lain yang menolak adanya ego adalah empirisme. Empirisme menurut David
Huma memandang konsep ego yang proses pengalaman-pengalaman yang datang
silih berganti adalah sekedar penemuan (nominalisme) ketika yang nyata
adalah pengalaman yang datang silih berganti dan bisa dipisahkan secara
atomis.
3. Rasionalisme menurut Cartesian yang masih melihat ego
sebagai konsep yang diperoleh melalui penalaran dubium methodicum:
“semuanya bisa kuragukan kecuali adanya aku yang sedang ragu-ragu karena
meragukannya berarti memepertegas keberadaannya”. Iqbal menolak
pendapat Kant yang mengatakan bahwa ego yang terpusat, bebas, dan kekal
hanya dapat dijadikan postulat bagi kepentingan moral. Bagi Iqbal
keberadan ego yang unified, bebas dan kekal bisa diketahui secara pasti
dan tidak sekedar pengandaian logis.
Suatu momen, seperti dikatakan
kierkegard, tatkala manusia harus memeilih beriman atau tidak beriman
yang saat itu juga manusia disadarkan bahwa ia sendiri yang harus
menentukan pilihannya bukan karena institusi agamanya atau rasionalitas
yang menghendakinya melainkan “aku” sendiri menghendakinya. Dalam hal
ini Iqbal secara tajam mengungkapakan, Tuhan sendiri tidak dapat
merasakan, mempertimbangkan, dan memilih buatnya bilamana lebih dari
satu jalan bertindak ada terbuka buat saya.
Kehendak kreatif
menurut Bergson dan Nietzsche mengartikan kehendak kreatif sebagai
khaotis, buta, dan tanpa tujuan. Iqbal menolak pandangan tersebut dengan
mengatakan kehendak kreatif adalah sesuatu yang bertujuan, yaitu diri
selalu bergerak kesatu arah. Secara intuitif menusia menyadari bahwa
kehendakanya memiliki tujuan karena bila tanpa tujuan makna kehendak
menjadi saran. Tujuan tersebut bukan ditetapkan oleh hukum sejarah
maupun takdir sebagai pre-conceived plan dari Tuhan. Dalam upayanya
mencapai individualitas yang kaya dan kuat, ego akan tumbuh dalam suatu
proses evolusi kreatif. Ego adalah sumber yang takkan pernah habis
terkuras. Untuk itulah setiap individu harus membuka dirinya dan siap
mengahadapi segala tantangan dan pengalaman dalam bentuk apa pun.
Manusia yang menolak aktivitas ego berarti menolak hidup.
Iqbal
menolak pantaisme yang menekankan kepasifan, penolakan ego sebagai
keutamaan dan sebagai gantinya ia menekankan bahwa diri otentik adalah
diri yang kuat, bersemangat, otonomi itulah yang mempertinggi kualitas
diri. Manusia berbeda dengan binatang yang motivasi perilakunya
semata-mata ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan material (urusan perut)
melainkan manusia memiliki kehendak bebas yang menolak ditundukkan dalam
suatu pola kausalitas. Dengan demikian Iqbal menolak bahwa prilaku
manusia ditentukan oleh suatu tujuan yang bukan ditentukannya sendiri
seperti hukum besi sejarah ataupun takdir.
Menurut Iqbal ada dua
cara manusia untuk menguasai takdir yaitu pertama Intelektual dengan
memahami dunia sebagai sistem tegas dari sebab-sebab. Kedua dengan cara
vital dengan penerimaan mutlak dari kemestian yang tak terhindarkan dari
hidup. Ego bagi Iqbal adalah kausalitas pribadi yang bebas, ia
mengambil bagian dalam kehidupan dan kebebasan Ego Mutlak. Sementara
itu, aliran kausalitas dari alam mengalir kedalam ego dan dari ego
kealam. Karena itu ego dihidupkan oleh ketegangan interaktif dengan
lingkungan. Menurut ia juga nasib sesuatu tidak ditentukan oleh sesuatu
yang berkerja diluar. Takdir adalah pencapaian batin oleh sesuatu, yaitu
kemungkianan-kemungkinan yang dapat direlisasikan yang terletak pada
kedalaman sifatnya.
Untuk memperkuat ego dibutuhkan cinta (intuisi)
dan ketertariakan, sedangkan yang memperlemahnya adalah ketergantungan
pada yang lain. Untuk mencapai kesempurnaan ego maka setiap individu
pasti menjalani tiga tahap:
a. Setiap individu harus belajar mematuhi dan secara sabar tunduk kepada kodrat makhluk dan hukum-hukum Ilahiah.
b. Belajar berdisiplin dan diberi wewenang untuk mengendalikan dirinys
melalui rasa takut dan cinta kepada Tuhan seraya tidak bergantung pada
dunia.
c. Menyelesaikan perkembangan dirinya dan mencapai kesempurnaan spiritual (Insan Kamil).
3. Pemikiran filsafat Iqbal mengenai pendidikan
Pendidikan itu hendaknya bersifat dinamis dan kreatif dan diarahkan
untuk memupuk dan memberikan kesempatan gerak kepada semangat kreatif
yang bersemayam dalam diri manusia serta mempersenjatainya dengan
kemauan dan kemampuan untuk menguasai segala bidang seni dan ilmu
pengetahuan yang baru, kecerdasan dan kekuatan. Jadi pendidikan
merupakan sesuatu yang diilhami oleh keyakinan yang optimis tentang
tujuan akhir manusia. Pendidikan hendaknya tidak pula mencipatakan suatu
antitesis yang lancung antara sistem nilai yang diwakili ilmu
pengetahuan dengan sistem nilai yang diwakili agama. Pengetahuan saja
tidak akan mampu memberikan gambaran-gambaran menyeluruh dan memuasakan
kita mengenai dunia kenyataan atau Realitas. Sebaliknya agama mengharap
pemahaman mengenai kenyataan itu secara menyeluruh, karena agama sumber
yang sangat vital bagi idealisme dan bagi kasih sayang kemanusiaan yang
intuitif, sehingga berkat kehidupan yang religius itu manusia hanya
akan mengguanakan segala dayanya demi kebaikan, dan bukan kejahatan.
Bagi mereka yang tak beriman
Pena dan pedang seperti tiada gunanya
Apabila tiada iman
Kayu dan besi kehilangan nilainya
Dalam hal ini Iqbal mempunyai pemikirannya tentang pendidikan, pokok
pembahasan dalam pendidikan mengenai pertautan antara intelek (disebut
Iqbal pula dengan istilah “khabar”) dan intuisi atau dalam peristilahan
Iqbal: “isyq” banyak penyinggungan baik dalam puisi Iqbal maupun
kumpulan ceramahnya berjudul Reconstruction of Regious Thought Islam.
Fungsi intelek yang bersifat analitis. Pandangan Iqbal yang sepintas
kilas kurang memberikan penghargaan kepada intelek sebenarnya merupakan
suatu protes terhadap sikap para pemikir modern yang terlalu
membesar-besarkan peranan intelek dalam kehidupan. Ditinjau dari
kerangka pandangan yang lebih luas, Iqbal sepenuhnya menghargai peranan
intelek dan pencarian ilmu pengetahuan melalui metoda eksperimental.
Ceramahnya: “Usaha intelektual dalam rangka mengatasi, brbagai hambatan
yang dihadapinya dalam semesta, disamping memperkaya dan memperluas
jangkauan kehidupan kita, juga mempertajam tilikan (insight) kita dan
dengan demikian mempersiapkan kita untuk lebih mendalami dan menembus ke
dalam segi-segi pengalaman insani yang lebih halus”.
Intuisis
menurut Iqbal adalah sejenis pencerapan yang membutuhkan data bagi
pengetahuan. Kehadiran Tuhan secara tidak langsung meresap ke dalam hati
manusia. Intuisi adalah istimewa dari “kalbu”, bukan milik pemikiran.
Intuisi adalah suatu keseluruhan yang tidak dapat dianalisis. Intuisi
diistalahkan Iqbal itu “cinta” atau “pengamatan kalbu”, memungkinkan
kita secara langsung menangkap dan mengamat serta bertautan dengan
kenyataan itu keseluruhan, sebagaimana ia menampilkan diri kepada kita
melauli kilasan intuisi. Kebenaran metafisik, menurut iqbal: “tidak akan
diraih dengan jalan melatih intelek, melainkan dengan jalan memusatkan
perhatian kita kepada apa yang mungkin ditangkap oleh kemampuan yang
disebut intuisi” dan iqbal menmbahkan: “kalbu itu merupakan semacam
intuisi atau tilikan batin, yang menurut ungkapan Rumi yang untaian kata
yang indah di besarkan dengan cahaya matahari dan memungkinkan kita
mengadakan hubungan dengan aspek-aspek kenyataan yang lain sama sekali
dari yang dapat ditangkap oleh pengamatan inderaiah”. Dalam hal ini
“pengamatan kalbu” itu panca indra sama sekali tidak turut ambil
peranan. Namun penghayatan yang dihasilkan sama kongkrit dan riilnya
seperti penghayatan yang dimungkinkan cara lain. Jadi kedua cara
menghayat kenyataan (pengamatan intelek dan intuisi) bukanlah dua hal
yang saling berlawanan secara hakiki, sebab cara yang pertama
memungkinkan kita menghayati kenyataan secara menyeluruh dan sekaligus
(simultan), sedang cara lain mencoba “memotret” atau menangkap aneka
wajah dari kenyataan yang itu juga, dan jalan mengamati masing-masing
segi secara khusus, secara eksklisif secara berturut-turut jadi intuisi
merupakan suatu tahapan intelek yang lebih tinggi.
D. Kesimpulan
Iqbal adalah seorang puitis dan filosof islam yang ahli dibidang
politik, beliau tidak setuju dengan sikap yang lamban. Dan beranggapan
bahwa islam bersikap sangat lamban dengan sikap tasawuf yang dimiliki
orang islam. Dalam pemikirannya tentang manusia iqbal berpendapat bahwa
manusia memiliki dasar dua yaitu intelek dan intuisi, dimana kedua dasar
tersebut membawa kita mencapai suatu pendidikan yang baik. Sehingga
manusia menjadi kreatif dan religius dalam membangun suatu peradaban
islam yang maju seperti abad keemasan yang dirampas oleh orang-orang
zindik. Menurut iqbal pendidikan yang baik adalah saat mengutamakan
intuisi dari pada intelek untuk menciptakan manusia yang maju dan
beradab.
Sunber : https://www.facebook.com/199737500178424/posts/252755601543280

Komentar
Posting Komentar