KIPRAH SEYYED HOSSEIN NASR DALAM
PEMIKIRAN ISLAM

Setelah memperoleh gelar Ph.D. dalam
bidang sejarah sains dan filsafat Islam dari
Harvard University, pada tahun 1958, Nasr
kembali ke Iran. Di sini ia lebih mendalami
filsafat Timur dan filsafat tradisional dengan
banyak diskusi bersama para tokoh
terkemuka agama Iran, seperti Thabathaba’i,
Abu Hasan al-Qazwini, dan Kazin Asar.
Dalam kegiatan akademik, Nasr mengajar di
Universitas Teheran, menjadi dekan fakultas
sastra pada lembaga yang sama tahun 1968-
1972
,5
 dan pada tahun 1962-1965 ia diangkat
sebagai profesor tamu pada Harvard Univer￾sity. Ia juga sarjana yang menduduki
pimpinan Aga Khan Chair of Islamic Studies
yang baru dibentuk di American University of
Beirut (1964-1965).7 Pada tahun 1975- 1979
Nasr menjadi direktur Imperial Iranian Acad￾emy of Philosophy, sebuah lembaga yang
didirikan dinasti Syah Reza Pahlevi, untuk
memajukan pendidikan dan kajian filsafat.
Nasr berhasil dalam tugas ini sehingga ia
diberi gelar kebangsaan oleh Syah.
Kredibilitas Nasr sebagai intelektual dan
akademisi tidak hanya dikenal di negaranya
sendiri tetapi juga diakui di negeri lain,
sehingga sering diundang seminar atau
memberi kuliah diluar negeri. Antara lain,
memberi kuliah tamu di Harvard, Amerika,
tahun 1962-1965, Universitas Amerika di
Beirut (American University of Beirut) tahun
1964-1965, menjadi direktur lembaga Aga
Khan untuk kajian ke-Islaman (Aga Khan
Chair Of Islamic Studies) pada Universitas yang
sama. Nasr juga memberikan makalah pada
Pakistan Philosofhical Congress, di Pakistan,
tahun 1964; memberikan kuliah di Universi￾tas Chicago, tahun 1966, atas sponsor
Rockefeller Foundation, dan tahun 1981
memberi kuliah di Giffort Lectures, lembaga
yang didirikan oleh Universitas Edinburg
(Edinburg University) tahun 1989.6
Nasr pernah datang juga ke Indonesia,
Juni 1993, atas undangan Yayasan Wakaf
Paramadina bekerja sama dengan penerbit
Mizan. Di sini ia memberi tiga ceramah
dengan topik berbeda, (1) tentang ‘Seni
Islam’ sekaligus peluncuran buku Spiritualitas
dan Seni Islam (Bandung, Mizan, 1993), (2)
tentang ‘Spritualitas, krisis dunia modern dan
agama masa depan’, (3) tentang ‘filsafat
perenial’.7
 Adapun Karya-karyanya
diantaranya adalah8
: Three Muslim Sages
(1962); An Introductin to Islamic Cosmological
Doctrine: Conceptions of Nature and Methods
Used for Its Study by the Ikhwan ash-Shafa, asl￾Biruni and Ibn Sina (1964); Islamic Science –
An Illustrated Study (1964); Ideals and Realitties
of Islam (1965), terjemahan bahasa Indonesia
berjudul Islam dalam Cita dan Fakta; Science
and Civilization in Islam ( 1968); Man and
Nature: the Spiritual Crisis of Modern Man.
(1968); Sufi Essays (1972); Islam and The Plight
of Modern Man (1975), terjemahan bahasa
Indonesia berjudul Islam dan Nestapa Manusia
Modern; Knowledge and the Sacred (1981),
terjemahan bahasa Indonesia berjudul
Inteligensi dan Spiritualitas Agama-Agama; The
Encounter Man and Nature (1984), terjemahan
bahasa Indonesia berjudul Antara Tuhan,
Manusia dan Alam; Traditional Islam in the
Modern World (1987); Islamic Art and Spiritual￾ity (1987).; The Need for Sacred Science (1993);
Religion and The Order of Nature (1994); The

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan Pengajaran PAII disekolah Umum

Mencari kebenaran Hakiki

Filsafat Martabat tujuh dalam Paradigma Pendidikan Karakter