Pemikiran Ibnu Sina
PEMIKIRANNYA DALAM FILSAFAT ISLAM
- A. Falsafah al-Faydh
Sebagaimana al-Farabi, Ibnu Sina juga menganut teori al-Faydh (emanasi).
Bagi Ibnu Sina, Tuhan sebagai akal murni memancarkan akal pertama dan
dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian
seterusnya sehingga tercapai akal kesepuluh dan bumi. Dari akal
kesepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah
bulan. Akal pertama adalah Malaikat tertinggi dan akal kesepuluh adalah
Jibril.[11]
Menurut kaidah yang dirumuskan al-Farabi
dan Ibnu Sina, dari “yang satu” hanya dapat keluar “yang satu” pula.
Maka yang keluar atau berasal dari Tuhan hanyalah “sesuatu yang satu”.
Dari “sesuatu yang satu” itulah, menurut al-Farabi, keluar pergandaan
secara dua-dua (istnaiyyah). Sedangkan menurut Ibnu Sina, bukan pergandaan secara “dua-dua” melainkan secara tiga-tiga (tsulatsiyyah).
Alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Sina adalah:
- Karena al-Aqlul-Awwal (akal pertama) berfikir akan al-Awwal (yakni Tuhan) maka terjadilah “akal” di bawahnya (yakni lebih rendah daripada “akal pertama”).
- Karena akal yang lebih rendah itu berfikir akan zatnya sendiri, maka terjadilah al-Falakul-Aqsha (cakrawala tertinggi), yang kesempurnaannya berupa an-Nafs (soul).
- Karena waktu yang memungkinkan terjadi eksistensi yang lebih rendah (al-Mudarijah) sebagai hasil dari pengertian akan zatnya sendiri, maka terjadilah al-Falaqul-Aqsha (cakrawala tertinggi).[12]
Dengan kata lain, dari “akal” keluarlah tiga eksistensi, yaitu : Akal, Nafs (soul), dan Jisim (materi).
Dengan demikian, jelaslah perbedaan teori emanasi (al-Faydh) antara al-Farabi dan Ibnu Sina. Al-Farabi mengatakan ada dua macam ta’aqqul (proses
berfikir) sebagai asal usul timbulnya akal yang lain dan benda-benda
cakrawala. Sedangkan menurut Ibnu Sina perlimpahanlah yang menjadi sebab
timbulnya pergandaan secara tiga-tiga, bukan secara dua-dua.
Perbedaan pendapat tersebut merupakan
suatu jalan keluar yang telah ia usahakan untuk keluar dari kesulitan
yang dihadapi oleh para filosof Yunani dahulu.[13]
Dari beberapa akal yang telah dikemukakan
oleh Ibnu Sina, maka akal pertama merupakan limpahan langsung dari
Tuhan, akal inilah yang paling sempurna dari akal-akal yang lain.
Selanjutnya akal kedua lebih rendah daripada akal pertama dan akal
ketiga lebih rendah lagi kesempurnaannya dari akal kedua, demikianlah
seterusnya.
- B. Falsafah al-Nafs
Seperti umumnya filosof pada zamannya,
Ibnu Sina percaya bahwa manusia terdiri dari jasad dan jiwa. Unsur jasad
dengan segala anggotanya merupakan alat bagi jiwa dalam melakukan
aktifitasnya. Dari itu jiwa berbeda secara hakiki dengan jasad yang
selalu berubah, berlebih dan berkurang sehingga ia mengalami kefanaan
setelah berpisah dengan jiwa.[14]
Berdasarkan ungkapan tersebut, maka dapat
dipahami bahwa hakekat manusia adalah jiwa. Oleh karena itu, para
filosof Islam lebih tertarik pada jiwa daripada masalah jasad dalam
membicarakan tentang manusia. Ibnu Sina misalnya, membagi jiwa manusia
kepada tiga bagian yaitu: jiwa alami atau nabati, jiwa hewani dan jiwa
rasional.[15]
a. Jiwa Alami atau Nabati (Tumbuh-tumbuhan)
Jiwa alami atau nabati mempunyai kemampuan untuk makan (nutrition), tumbuh (growth), dan berkembang biak (refroduction).
b. Jiwa Hewani
Jiwa hewani mempunyai kemampuan untuk bergerak dengan bebas (locomotion), dan kemampuan untuk melakukan penangkapan (perception).
Kemampuan yang pertama
terdiri dari gerakan aktif dan gerakan impulsif. Gerakan aktif
disalurkan melalui saraf dan otot untuk mengerutkan atau mengendorkan
otot-otot dan urat daging sehingga bisa mendekat atau menjawab sebuah
titik beranjak. Gerakan impulsif ada dua macam, ada yang disandarkan
pada keinginan dan ada yang muncul dari rasa marah. Yang pertama membuat
gerakan, yang menarik seseorang lebih dekat kepada benda-benda yang
dibayangkan perlu bermanfaat dan menimbulkan kenikmatan, yang kedua
membuat gerakan yang bisa menolak dan menghindari hal-hal yang dipandang
berbahaya dan merusak.
Kemampuan yang kedua, yakni kemampuan
perseptif terbagi dalam dua sub bagian, yaitu indra lahir dan indra
batin. Indra lahir dikenal dengan nama panca indra (penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan sentuhan). Sedangkan indra batin
terdiri dari lima daya :
1. Indra bersama, daya ini berfungsi untuk menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indra.
2. Representasi, daya ini berfungsi untuk menyimpan segala apa yang diterima oleh indra bersama.
3.Imaginasi, daya ini berfungsi untuk menyusun apa yang disimpan oleh representasi.
4. Estimasi, yang dapat menangkap hal-hal
abstrak yang terlepas dari materi, misalnya keharusan lari kambing dari
anjing, serigala.
5. Rekolasi, yang menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh estimasi.
c. Jiwa Manusia (Rasional)
Jiwa rasional ini terdiri dari dua daya,[16] yaitu :
1. Praktis, yang berhubungan dengan badan.
2. Teoritis, yang berhubungan dengan hal-hal abstrak. Daya ini memiliki tingkatan-tingkatan:[17]
a. Akal Materi, yang semata-mata memiliki potensi untuk berfikir tentang hal-hal yang abstrak.
b. Intellectus in habitu, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal abstrak.
c. Akal Aktual, yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstrak.
d. Akal Mustafad, yaitu akal yang telah
sanggup berfikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya
upaya, akal yang telah terlatih begitu rupa, sehingga hal-hal yang
abstrak selamanya terdapat dalam akal yang serupa ini, akal yang serupa
inilah yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif.
Dari ketiga jiwa tersebut,
maka apabila seseorang telah dikuasai pada dirinya jiwa tumbuh-tumbuhan
dan binatang, maka orang itu dapat menyerupai binatang. Namun, jika jiwa
manusia yang sangat berpengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat
menyerupai Malaikat dan dekat dengan kesempurnaan.[18]
Apabila jiwa manusia telah
mencapai kesempurnaan sebelum ia berpisah dengan badan, maka ia
selamanya akan berada dalam kesenangan, dan jika ia berpisah dengan
badan dalam keadaan tidak sempurna, karena semasa bersatu dengan badan
ia telah dipengaruhi oleh hawa nafsu, maka ia akan hidup dalam keadaan
menyesal dan terkutuk untuk selama-lamanya di akhirat.
- C. Falsafah Kenabian
Pada tingkatan intelektual, perlunya
wahyu kenabian dibuktikan. Ibnu Sina membangun seluruh teori tentang
pengalaman intuitif, manusia sangat berbeda-beda berdasarkan
kekuatan-kekuatan intuitif mereka dalam kualitas maupun dalam
kuantitasnya dan sementara sebahagian orang hampir sama sekali tak
memiliki pengalaman intuituf itu. Yang lain memilikinya dalam kadar yang
tinggi, sehingga orang dianugerahi keluarbiasaan memiliki hubungan
menyeluruh dengan realitas. Wawasan yang menyeluruh, kemudian mewujud
dalam tesis-tesis tentang sifat dasar realitasdan tentang sejarah masa
depan, dan wawasan inipun bersifat intelektual dan moral spiritual
sehingga pengalaman kenabian itu tentu memenuhi kriteria filosofis
ataupun moral. Berdasarkan wawasan kreatif inilah Nabi menciptakan
nilai-nilai moral baru dan mempengaruhi sejarah masa mendatang. Komitmen
psikologis moral dari wawasan inipun merupakan keimanan Nabi serta
kecakapannya dalam pengetahuan yang benar dan dalam penelitian moral
yang tepat. Wawasan kreatif tentang pengetahuan dan nilai-nilai
diistilahkan oleh Ibnu Sina dengan akal aktif dan diidentikkan dengan
Malaikat pembawa wahyu.[19]
Wawasan intelektual spiritual merupakan
karunia tertinggi yang dimiliki Nabi. Ia tak dapat bertindak kreatif
dalam sejarah semata-mata berdasarkan kekuatan wawasan itu. Sifat
pembawaan kedudukan yang dijabatnya menghendaki agar seyogyanya
menghadap umat manusia berbekal risalah, mempengaruhi mereka dan
benar-benar berhasil misalnya. Nabi harus memiliki imajinasi yang kuat
dan hidup, bahwa kekuatan fisiknya sedemikian kuat hingga ia harus
mempengaruhi bukan hanya pikiran orang lain melainkan juga seluruh
materi pada umumnya, bahwa ia mampu melontarkan suatu sistem sosial
politik.[20]
Dengan kualitas imajinasi yang luar biasa
kuatnya, pikiran Nabi selalu keniscayaan psikologis yang mendorong,
mengubah kebenaran-kebenaran akal murni dengan konsep-konsep menjadi
imajinasi-imajinasi dan simbol-simbol kehidupan yangs sedemikian kuat
sehingga orang yang mendengar atau membacanya tidak hanya menjadi
percaya tetapi juga terdorong untuk berbuat sesuatu. Wahyu-wahyu yang
terdapat dalam kitab-kitab suci keagamaan sebahagian besar berupa
perintah dan keharusan, sehingga perlu ditafsirkan untuk mendapatkan
kebenaran yang tertinggi, mendasar dan spiritual. Wahyu dalam pengertian
tekhnis inilah yang mendorong manusia untuk beramal dan menjadi orang
baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham belaka,
maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal murni.[21]
Karena itu, Nabi perlu menjadi seorang pembuat hukum dan seorang
negarawan tertinggi. Hukum (syariah) ini mesti demikian rupa sehingga
berhasil guna dalam membentuk masyarakat yang baik, harus memperingatkan
mereka akan Tuhan pada setiap langkah; dan harus pula menjadikannya
sebagai tolak ukur pendidikan bagi mereka dalam rangka membuka mata
mereka terhadap apa yang ada dalam bentuk lahiriyahnya, sehingga mereka
memahami tujuan-tujuan spiritual sejati Sang pembuat hukum.[22]
Harun Nasution memberikan uraian tentang
falsafah Kenabian dalam pemikiran Ibnu Sina, yaitu ; akal mempunyai
empat tingkat dan terendah di antaranya ialah akal materi. Adakalanya
Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materi yang besar lagi kuat,
yang oleh Ibnu Sina diberi nama al-Hads, yaitu intuisi. Daya yang
ada pada akal materi serupa ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui
latihan dengan mudah dapat berhubungan dengan akal aktif dan dengan
mudah dapat menerima cahaya atau wahyu dari Tuhan. Akal yang serupa ini
mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh
manusia dan terdapat hanya pada Nabi-nabi.[23]
- D. Falsafah al-Wujud
Ketika para filosof Arab membahas soal
Tuhan dan sifat-sifat-Nya, mereka tidak mungkin meninggalkan ajaran
prinsip yang telah ditetapkan oleh agama Islam, yaitu Keesaan-Nya yang
mutlak. Sebagaimana yang terdapat dalam surah al-Ikhlas.
Dalam teori filsafat Ketuhanan, Ibnu Sina mengatakan bahwa Allah adalah wajibul wujud. Sebagai wajibul wujud, maka Ia pasti ada tidak bisa tidak.
Mengenai sifat wujudiyah, Ibnu Sina
mengatakan bahwa hal itu sangat penting dan mempunyai kedudukan di atas
segala sifat lain, walaupun esensi sendiri. Esensi dalam paham Ibnu
Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat di luar akal.
Wujudlah yang membuat tiap esensi yang dalam akal mempunyai kenyataan di
luar akal. Tanpa wujud, esensi tidak besar artinya. Oleh karena itu,
wujud lebih penting dari esensi. Tidak mengherankan kalau dikatakan
bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu mengajukan filsafat wujudiah dari
filosof-filosof lain.[24]
Apabila dikombinasikan antara esensi dan wujud, maka mempunyai kombinasi sebagai berikut:
1. Esensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina sebagai sesuatu yang mustahil berwujud.
2. Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut mumkin,
yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud
sebagai contoh, alam ini yang pada mulanya tidak ada, kemudian ada dan
akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
3. Esensi yang tidak boleh tidak mesti
mempunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, esensi
dan wujud adalah sama dan satu. Di sini esensi tidak dimulai oleh tidak
berwujud dan kemudian berwujud, sebagaimana halnya dengan esensi dalam
kategori kedua, tetapi esensi mesti dan wajib[25] mempunyai wujud[26] selama-lamanya. Yang serupa ini disebut mesti berwujud, yaitu Tuhan. Wajib al-Wujud inilah yang mewujudkan Mumkin al-Wujud.[27] Hubungan antara wajib al-wujud dengan mumkin al-wujud bersifat emanasionistis.
Dengan demikian, jelaslah bahwa Allah adalah Maujud (ada) dan pasti ada. Segala sesuatu selain Dia bergantung kepada-Nya.
IV Kesimpulan
Pemikiran filsafat Ibnu Sina
sebagaimana yang sudah diungkapkan tersebut, menjadikan sosoknya sangat
mengagumkan. Pemikiran filsafat yang dibangunnya tampak orisinil dengan
pencapaian definisi dan metode pemisahan serta perbedaan konsep-konsep
secara tegas memberikan kehalusan terhadap pemikiran-pemikirannya.
Penyempurnaan konsep dan reformulasi terhadap pemikiran filosof
terdahulu khususnya al-Farabi yang sangat besar jasanya sebagai filosof
pertama yang mengupas persoalan itu adalah wajar.
Pemikiran filsafatnya
mengenai Emanasi, an-Nafs, Kenabian, dan teori al-Wujud sangat brilian
yang mengantarkan Ibnu Sina bukan saja sebagai filosof muslim yang unik
diantara filosof lainnya, tetapi juga mendapatkan penghargaan yang
tinggi pada zaman modern.
Sungguhpun demikian,
pemikirannya tentu saja tidak terlepas dari kritik dan hujatan, seperti
al-Ghazali atau lainnya.
Komentar
Posting Komentar