Pemikiran-pemikiran Ibn ‘Arabi
Pemikiran-pemikiran Ibn ‘Arabi
Dalam
membahas sebuah objek, Ibn ‘Arabi terlebih dahulu mengklasifikasikan
tentang cara-cara objek pengetahuan diperoleh. Menurutnya ada tiga
klasifikasi pengetahuan:[4]
Pertama,
pengetahuan intelektual (‘ilm al-aql), yaitu pengetahuan yang diperoleh
dengan segera atau melalui suatu penyelidikan secara demonetrasional
mengikuti prosedur logis.
Kedua,
pengetahuan eksperensial, yaitu kesadaran akan keadaan-keadaan batin
pikiran yang hanya bisa dikomunikasikan setelah ‘merasakan sendiri”.
Seorang rasionalis tidak bisa mendefenisikan keadaan-keadaan ini, dan
akal juga idak bisa dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran keadaan
ini (misalnya: manisnya madu dan nikmatnya cinta).
Ketiga,
pengetahuan tentang yang gaib (ilm al-asrar), yaitu bentuk pengetahuan
intelektual yang transenden yang diraih melalui wahyu atau ilham dari
ruh suci (malaikat Jibril) ke dalam pikiran. Pengetahuan ini terdiri
dari dua jenis: yang bisa diterima oleh akal (melalui prosedur
rasional), dan melalui prosedur spiritual. Yang terakhir ini dibagi lagi
menjadi dua:pengetahuan dengan merasakan sendiri, dan pengetahuan
deskriptif.
Dalam bidang ontologi, salah satu sumbangan pemikiran Ibnu ‘Arabi adalah doktrinnya tentang ketunggalan wujud atau wahdah al-wujud.
Yaitu sebuah pandangan bahwa tak ada wujud yang sejati, yang mutlak,
yang mencakup semua wujud, kecuali Allah Yang Maha Esa. Kemutlakan wujud
Allah akan “menenggelamkan” wujud-wujud yang lain. Dengan logika ini,
maka makna dari syahadat “La ilaha illa Allah” ialah bahwa saya bersaksi
tiada sesuatupun yang memiliki wujud yang sejati kecuali Allah. Konsekuensinya,
segalanya selain Allah, termasuk manusia dan dunia, tidak benar-benar
ada. Artinya semuanya itu tidak berada secara terpisah dari, dan
sepenuhnya bergantung pada, Allah. Yang selain Allah itu tampil sebagai
wujud-wujud terpisah semata-mata hanya karena keterbatasan-keterbatasan
persepsi manusia. Ibnu Arabi dalam menjelaskan “wujud yang bergantung”
ini menggunakan istilah “bayangan” dalam sebuah cermin. Gambar dalam
sebuah cermin meskipun “ada” dan “kelihatan”, bagaimanapun juga ia
hanyalah “ilusi” atau “bayangan” dari aktor yang bercermin. Dan ketika
Sang Aktor menggunakan ribuan cermin, maka bayangan Sang Aktor akan
menjadi banyak, pada hal hakikatnya tetaplah Satu.[5]
Selama
ini sering rancu apakah wahdatul wujud itu sama dengan Pantheisme.
Konsep wahdatul wujud menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang
mempunyai wujud yang hakiki/mutlak kecuali Allah. Wujud Mutlak adalah
wujud yang keberadaannya independen (tidak bergantung pada apapun),
tidak berawal, tidak membutuhkan wujud lain untuk membuat-Nya berawal
(karena Dia memang tidak berawal). Adanya Wujud Mutlak ini ialah
keniscayaan bagi keberadaan wujud wujud lain yang berawal. Alam semesta
dan segala sesuatu selain Allah adalah wujud yang tidak hakiki, karena
keberadaannya tergantung kepada Wujud Mutlak. Oleh para sufi segala
wujud selain Allah itu disebut wujud al mukmin. Berbeda dengan Wujud
Mutlak, wujud al mukmin ini adalah wujud yang berawal, artinya baru ada
pada waktu awal tertentu. Misalnya alam semesta yang baru ada pada saat
Big Bang, yang oleh para kosmolog diperkirakan terjadi 10 milyar tahun
yang lalu. Oleh karena itu alam semesta ialah wujud al mukmin, karena
keberadaannya diwujudkan (maujud) oleh Allah.[6]
Harus
dipahami bahwa paham Ibnu ‘Arabi ini tidak menyamakan segala sesuatu
yang tampak sebagai bukan-Allah itu dengan Allah. Sebab jika kita
misalnya mengatakan bahwa manusia adalah Allah dan Allah adalah manusia
maka kita akan jelas-jelas terjebak ke dalam panteisme. Menurut Ibnu
‘Arabi keterbatasan persepsi manusia telah gagal untuk melihat kaitan
integral antara keberadaan selain-Allah dengan keberadaan Allah sendiri.
Jelas
ada perbedaan prinsipil antara wahdatul wujud dengan pantheisme.
Pantheisme menganggap bahwa wujud Tuhan itu bersatu dengan wujud
makhluk, sedangkan wahdatul wujud menganggap bahwa wujud Tuhan itu
terpisah dari wujud makhluk. Jadi bagi penganut pantheisme, wujud Tuhan
itu tidak ada, karena Tuhan adalah alam, dan alam adalah Tuhan. Jelas
dari sisi logika maupun dalil kepercayaan pantheisme ini adalah sesat.
Doktrin ketunggalan wujud Ibnu ‘Arabi bersifat monorealistik,[7] yakni menegaskan ketunggalan yang ada dan mengada (tauhid wujudi).
Teori wahdatul wujud menekankan pada unitas wujud yang hadir pada
segala sesuatu yang disebut sebagai maujud. Tuhan berwujud, manusia
berwujud, benda-benda mati berwujud, dsb. Apakah wujud setiap satu dari
mereka sifatnya berdiri sendiri (self-subsistence) atau justru subsist-by other.
Lalu kalau pilihannya adalah yang kedua, apa beda antara wujud Tuhan
dengan wujud selainnya? Lalu bagaimana mungkin kita bisa membayangkan
bahwa wujud itu satu, sementara di dunia realitas kita menemukan
entitas-entitas yang sepertinya berdiri sendiri. Bukankah keberadaan
entitas si Ahmad berbeda dengan keberadaan entitas si Amir. Apalagi
dibandingkan dengan entitas hewan, nabati, dan sebagainya. Lantas dimana
letak unitasnya?
Untuk
menjawab persoalan itu yang dikenal dengan istilah problem
multiplisitas dengan unitas wujudiyyah yang menerangkan tentang dua
perkara yang cukup fundamental. Pertama, ada yang disebut dengan istilah
maujud murakkab (composite existence) dimana keberadaan
entitas tersebut bergantung pada unsur-unsur pokoknya. Segala sesuatu
yang termasuk dalam kategori ini maka wujudnya pasti akan terbatas.
Kedua, maujud basit (the Simple Existent), di mana jenis
wujudnya tak pernah bergantung pada unsur-unsur. Karenanya ia tidak
pernah terbatas. Wujud /basit/ ini hanya milik Allah SWT saja di mana
wujudnya merupakan maujud-Nya itu sendiri.[8]
Dengan
mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan wujud mengajak kita
memahami makna the Ultimate Reality di mana realitas Allah selain
Simple, juga wahid atau menyatu dalam maknanya yang sangat unik.
Meskipun wahdatul wujud namun tidak terjebak pada teori panteisme,
karena wujud entitas-entitas selain-Nya juga tetap terpelihara.
Menurut Ibnu ‘Arabi, thap tertinggi yang bisa dicapai manusia adalah pengalaman langsung (dzauq). Berbeda denga Abu Yazid dan Al-Hallaj yang percaya bahwa tujuan tertinggi jiwa ialah penyatuan-diri (ittihad)
dengan Tuhan. Ibnu ‘Arabi memandang pengalaman langsung sebagai tujuan
tertingginya. Saat mencapai tahap tersebut, jiwa berarti telah mencapai
kondisi peniadaan-diri (fana’). Dan pada saat itulah, ia akan
mampu secara visual menyaksikan kesatuan segala sesuatu; kesatuan antara
yang mencipta dengan yang dicipta, yang tampak dan yang tak-nampak,
yang abadi dan yang binasa.
Selanjutnya
perlu diperhatikan di sini adalah bahwa kesatuan metafisis Ibnu ‘Arabi
sepenuhnya berbeda dengan “mistisisme uniter’ milik Abu Yazid dan
Al-Hallaj yang ajaran keduanya cenderung bersifat personal dan
eksistensial. Kesatuan yang diwacanakan oleh kedua sufi tersebut hanya
mencakup kesatuan atau keserupaan antara sufi dan Tuhan—yang oleh
literartur mistis sering disebut Sang Kekasih atau Kebanaran (Al-Haqq).[9]
Komentar
Posting Komentar