Pemikiran Ali Syariati Tentang Pendidikan

A.    Pendahuluan
Saat sekarang ini, sungguh merupakan awal kebangkitan Islam, dengan ditandai makin suburnya gerakan-gerakan pembaharuan yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Islam. Pembaharuan disini ialah usaha para tokoh Islam untuk memberikan pengarahan kepada umat Islam dalam mengikuti perkembangan zaman, yang ditandai dengan modernnya tata kehidupan manusia dewasa ini. Para tokoh Islam ini memiliki perbedaan dalam mengusahakan pembaharuan dalam kajian Islam untuk menghadapi modernitas kehidupan saat sekarang ini.[2]
Disamping itu, menempatkan kedudukan agama yang jelas di dalam masyarakat merupakan masalah yang harus dihadapi pula oleh negeri-negeri Islam tersebut. Semenjak berdiri Islam meliputi dua aspek, yaitu agama dan masyarakat atau politik.[3] Islam tidak memisahkan persoalan-persoalan rohani dan persoalan-persoalan dunia, tetapi mencakup kedua segi ini. Hukum Islam (syari’at) mengatur kedua segi itu, hubungannya manusia dengan Tuhan serta hubungan manusia dengan sesamanya.[4] Di waktu yang lalu berbagai jalan untuk menundukkan masalah ini telah dicoba, tetapi kalangan Islam sendiri merasakan bahwa hasil yang dicapai masih sangat terbatas dan karena itu perlu lebih disempurnakan lagi.[5]
Berkembangnya berbagai aliran dalam Islam telah memberikan warna dan corak tersendiri bagi umat dalam berbagai hal. Diantara aliran yang berkembang tersebut adalah aliran Syi’ah yang memiliki pola pikir yang berbeda dari aliran Sunni. Perbedaan ini telah memperkaya pola pikir umat Islam dalam berbagai aspek, temasuk dalam masalah kalam atau teologi. Meskipun memiliki berbagai perpedaan mendasar antara Sunni dan Syi’ah, namun ada beberapa kesamaan yang mesti digali untuk mendekatkan kedua belah pihak ini. Salah satu diantara hal yang menjadi perhatian kedua golongan ini adalah masalah kemunculan seorang “\Imam Mahdi” di akhir zaman yang akan menjadi penegak keadilan.[6]
Islam, menurut Syari’ati, mendasarkan risalahnya pada tauhid dan menyerukan kepada manusia agar mengakui keesaan Tuhan, sehingga mereka akan diselamatkan.[7]
Menurut Fazlur Rahman, Ali Syari’ati adalah pemikir modernis yang membangkitkan semangat rakyat untuk menentang dominasi asing pada negerinya. Ia berusaha menegakkan Islam dengan metode baru yang serasi melalui pendekatan sosiologi historis dalam memahami al Qur’an. Sedangkan Mongol Bayat menganalisis bahwa hasil karya Ali Syari’ati yang paling kekal adalah usaha untuk mengungkapkan konsepsi Islam yang baru, bersemangat dan penuh inspirasi. Mengubah konsep Islam yang beku menjadi ideologi politik revolusioner yang tangguh.[8]
Doktor Ali Syari’ati adalah salah seorang pembaharu paham keagamaan mazhab Syiah, dan sering pula disebut sebagai “arsitek” revolusi Islam selain Ayatullah Rahullah Khomeini.[9]
Menurut Syari’ati, paham Syiah harus ditransformasikan menjadi Islam ideologis. Syiah telah terlampau lama meratapi nasib karena tertindas selama berabad-abad di tangan para penindas. Pembebasan Syiah dari ketertindasan itu tidak dapat dicapai semata-mata dengan pembacaan riwayat hidup para syuhada Syiah (rawzah knawi) dan berkabung (ta’ziyah). Waktu telah datang untuk menghentikan ratapan dan pembicaraan yang sia-sia dan mulai bertindak dalam aksi sosial.[10]
Untuk itu, tulisan sedeerhana ini akan memaparkan pandangan-pandangan Ali Syari’ati secara umum tentang menyeru kepada tauhid. Berikutnya, tulisan ini menyorot, diantara sekian banyak pokok-pokok pemikirannya, tiga diantaranya tentang: (i) pembaharuan Islam Syiah; (ii) Konsep Intizar Dalam Ajaran Syi’ah; (iii).dan Gerakan Islam Revolusioner dan Marxisme. Dan merupakan suatu keniscayaan bagi makalah ini untuk memulai dengan memaparkan riwayah hidup tokoh dimaksud seala-kadarnya.
B.     Riwayat Hidup Ali Syari’ati
Doktor Ali Syariati adalah salah seorang pembaharu paham keagamaan mazhab Syiah, dan sering pula disebut sebagai “arsitek” revolusi Islam selain Ayatullah Rahullah Khomeini.[11] Syari’ati dilahirkan di derah Mizanan yang terletak di pinggiran kota Mashad Iran pada tahun 1933.[12] Ayahnya bernama Muhammad Taqi Syari’ati adalah seorang ulama dan guru besar terkenal di Iran. Adapun kakek dari ibunya juga seorang ulama terkenal, Ali Syariati lahir dan dibesarkan di lingkungan yang agamis dan pembentukan kepribadian Syariati kecil langsung dari ayahnya sendiri.[13]
Di Mashad inilah ia menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya. Ketika belajar disekolah pendidikan guru, ia berkenalan dengan pemuda-pemuda dari golongan masyarakat ekonomi lemah dan turut merasakan kemiskinan mereka.[14] Syari’ati merupakan seorang Sosiolog, ahli polotik dan syariat. Ayahnya merupakan seorang guru di Sekolah Menengah Atas dala bidang keislaman. Pada usia 17 tahun, ia belajar di sekolah Primary Teacher. Dalam usia 20 tahun ia mendirikan organisasi persatuan pelajar Islam Iran.[15]
Dr. Ali Syari’ati (1933-1977) adalah salah seorang figur paling populer di Iran sekarang. Semasa revolusi tahun 1979, foto dan tulisan-tulisannya tersebar luas di seluruh penjuru Iran.[16] Syariati memulai karirnya sebagai guru sesudah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah dan di Akademi Pendidikan Guru. Ia mengajar di sekitar Meshad (1956) selama beberapa tahun. Diikutinya program tingkat prasarjana pada Fakultas Sastra yang baru didirikan di Universitas Meshad (1956). Selama tahun-tahun itu, ia meningkatkan kesadaran keagamaan melalui tulisan-tulisan dan ceramah-ceramahnya yang mengesankan di kalangan peserta muda di pusat organisasi, yang ternyata juga menumpuk perkembangan intelektualitas dan keagamaannya sendiri.[17]
Pada 1960, ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan nilai memuaskan sehingga beroleh beasiswa untuk melanjutkan pelajaran ke Prancis. Di Prancis, ia kuliah dan berhasil meraih gelar doktor pada bidang sosiologi dan sejarah Islam dari Universitas Paris. Selama berada di Prancis, Syari’ati terlibat dalam dialog langsung yang intens dengan pemikiran cendikiawan Barat terkemuka semacam Frantz Fanon, Jean Paul Sarte, Gures Gurevich, Henry Bergson, Albert Camus, Louis Massignon, dan lain-lain.[18]
Walaupun berada di Paris, namun pribadi Syariati yang penuh dengan semangat perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, ia tetap berjuang menentang rezim Iran. Antara 1962 dan 1963, waktu Syariati tampaknya habis tersisa untuk aktivitas politik dan jurnalistiknya. Pemikirannya yang cemerlang dan gerakan politiknya yang menggugah semangat kaum muda menjadikan dia sebagai figur oposan yang sangat spektakuler dalam mengubah tatanan politik  atas kekuasaan hegemoni Syah Pahlevi. Karena wataknya yang kritis, sekembalinya di Iran dengan gelar doktoral tahun 1963, Syariati menjadi sosok yang karismatis yang kuliah-kuliahnya di universitas Masyhad sangat memukau dan memikat audiens, karena isi kuliahnya yang membangkitkan orang untuk berpikir.[19]
Syariati kemabali ke Iran 1964, dan segera di tahan serta dipenjarakan selama enam bulan, karena dituduh turut dalam kegiatan anti pemerintah (Iran) di Perancis. Sesuadah dibebaskan, ia melamar menjadi dosen di Fakultas Sastra pada Universitas Teheran, tapi ditolak. Sesudah itu, dia mengajar pada berbagai sekolah menengah dan Akademi Pertanian, sampai tersedia jabatan dosen ilmu sejarah pada Universitas Meshad pada 1966. Dalam waktu singkat, Syariati menjadi dosen paling populer di universitas, dan pembicara pada sebagian besar acara keagamaan yang penting, yang diselenggarakan oleh warga universitas. Gayanya, dengan baik dapat dilukiskan sebagai inovasi dalam konteks Iran, baik dalam metode maupun dalam isi.[20]
Pada tahun 1969, ia menerbitkan karya monumental Eslamshenasi (Islamology) yang didasarkan pada naskah-naskah kuliah yang diberikan dalam suatu kursus tentang sejarah Islam. Secara garis besar, buku ini berisi benih-benih pemikiran Syariati yang menyatakan penentangannya terhadap kelompok intelektual terbaratkan (gharbzadigi/ westoxication), yang dikiranya hanya didasarkan pada hasil terjemahan sumber asing yang tidak mampu melahirkan karya intelektual mandiri yang asli. Ia juga menyerang kaum ulama resmi pemerintah dan tradisional yang hanya bisa menjadi kaum lemah dan terhegemoni oleh kekuasaan besar. Mereka tidak mampu berbuat lebih dari sekedar seorang rohaniwan yang berbicara dari tempat sunyi dari realitas masyarakatnya.[21]
 Karena begitu karismatis, akhirnya pemerintahan Syah Pahlevi berang. Karena merasa terancam, pada 16 Mei 1977, Syariati meninggalkan Iran. Ia mengganti namanya menjadi Ali Syariati. Tentara Syah, SAVAK akhirnya mengetahui kepergian Ali Syariati mereka mengontak agen mereka di luar negeri. Di London Inggris, pada 19 Juni 1977 janazah Ali Syariati terbujur di lantai tempat ia menginap. Kematian yang tragis seorang pejuang Islam yang teguh memperjuangkan keyakinannya. Ia syahid dalam memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Ali Syariati telah mengikuti jejak sahabat Nabi dan Imam Ali yang begitu dikagumi dan dijadikan simbol perjuangannya, Abu Dzar Al-Ghifari.[22]
C.     Islam Liberal-Rasional : Menyeru Kepada Tauhid
Pemikiran Syari’ati yang sangat penting adalah ajakan untuk kembali kepada “Islam yang benar” sebagaimana yang banyak disuarakan oleh kaum pembaru Islam seperti yang dilakukan oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, maupun dari pembaru Islam di berbagai negara dan juga di Indonesia.[23]
Islam, menurut Syari’ati, mendasarkan risalahnya pada tauhid dan menyerukan kepada manusia agar mengakui keesaan Tuhan, sehingga mereka akan diselamatkan. Wawasan diselamatkan tidak hanya soteriologis; malahan ia merupakan janji penyelamatan manusia dari segala jenis pembatasan dan tekanan, di kedua dunia, sekarang dan hari nanti. Untuk tujuan ini, disamping menghendaki manusia agar mengakui tauhid, Tuhan mengejarkan padanya “nama semua benda”,[24]  yaitu dianugerahkan-Nya kepada manusia kemampuan untuk menanggapi dan memahami kebanaran-kebenaran ilmiah yang menyatu dalam dunia, dan juga belajar dari pengamatan empiris tentang tanggung jawabnya terhadap diri sendiri dan sesama manusia, agar “diselamatkan”. Hubungan dan keeratan khusus antara manusia dan Tuhan mengandung arti tanggung jawab manusia individual maupun sosial, dalam kapasitasnya sebagai wakil Tuhan, untuk menciptakan suatu kahidupan yang baru, suatu tatanan sosial yang adil – nizam-i tauhid – yang menhendaki tauhid.[25]
Menurut Fazlur Rahman, Ali Syari’ati adalah pemikir modernis yang membangkitkan semangat rakyat untuk menentang dominasi asing pada negerinya. Ia berusaha menegakkan Islam dengan metode baru yang serasi melalui pendekatan sosiologi historis dalam memahami al Qur’an. Sedangkan Mongol Bayat menganalisis bahwa hasil karya Ali Syari’ati yang paling kekal adalah usaha untuk mengungkapkan konsepsi Islam yang baru, bersemangat dan penuh inspirasi. Mengubah konsep Islam yang beku menjadi ideologi politik revolusioner yang tangguh.[26]
Tauhid adalah prinsip dasar agama samawi. Merujuk kepada al-Qur’an, dapat ditemukan bahwa tugas para Nabi dan Rasul adlah menyampaikan ajaran Tauhid, sebagaimana dalam Q.S. 21 : 25, “Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu kecuali Kami mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”. Hal ini juga terlihat ketika Nabi Musa menerima ajaran Allah yang diabadikan dalam Q.S. 20 : 13-14, “Aku yang memilihmu, maka dengarkan dengan teliti apa yang akan diwahyukan (kepadamu): Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku. Sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu. Nabi Isa juga mengajarkan tauhid kepada umatnya seperti yang termaktub dalam Q.S. 5 : 72. “Isa berkata (kepada Bani Israil), “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya siapa yang memepersekutukan-Nya maka Allah mengharamkan baginya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orang yang aniaya.”[27]
            Penjelasan tauhid semakin mantap dan jelas hingga mencapai puncaknya dengan kehadiran Nabi s.a.w. Uraian al-Quran tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad dimulai dengan pengenalan tentang perbuatan dan sifat-Nya. Ini terlihat jelas pada wahyu pertama Q.S. 96 : 1-5, “Bacalah demi Tuhanmu yang menciptakan (segala sesuatu). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang (bersifat) Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan Qalam, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” [28]
            Dalam sejarah pemikiran ilmu kalam, Tauhid sebagai dasar ajaran Islam yang utama telah mengalami perluasan ekoran perdebatan para ulama ilmu kalam, sehingga penafsiran Tauhid menjadi samar dan tidak jelas. Munculnya perdebatan yang terus-menerus tentang fungsi akal dan wahyu, kebebasan manusia dalam perbuatan, kedudukan orang-orang yang berdosa besar, dan lain-lain telah menjadikan makna Tauhid hanya berputar di ruang-ruang seminar yang disarati dengan sejumlah argumantasi ketuhanan yang serba rumit. Kemudian ditambahkan pula keatasnya pendapat dan pemikiran dari berbagai-bagai aliran ilmu kalam seperti Mu’tazilah, Asy’ariah, Maturidiah, Syiah dKemudian ditambahkan pula keatasnya pendapat dan pemikiran dari berbagai-bagai aliran ilmu kalam seperti Mu’tazilah, Asy’ariah, Maturidiah, Syiah dan sebagainya, yang akhirnya mengakibatkan terlepasnya Tauhid dari dinamika kehidupan umat.
            Ali Syari’ati berpendapat bahwa untuk membangun masyarakat Islam, Tauhid harus diturunkan ke dalam aktifitas dan kehidupan umat Islam.[29]
            Dalam suatu masyarakat yang berdasarkan prinsip tauhid, para anggotanya harus tunduk hanya kepada kehendak Tuhan. Kehendaknya diwujudkan dalam norma-norma yang mengatur masyarakat. Manusia harus menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Tuhan, dengan cara mengikuti hukum-hukum alam yang tetap, tidak berubah, dan secara ilmiah dapat dibuktikan.[30]
            Syirik sebagai lawan dari Tauhid merupakan kontradiksi antara alam fisik dan alam metafisik, antara materi dengan arti, antara dunia dengan akhirat, antara inderawi dengan supra inderawi. Sedangkan Tauhid menganggap bahwa seluruh anasir alam, proses kejadian dan tanda-tanda kewujudannya, adalah turut serta dalam gerakan harmoni ke arah matlamat tunggal. Apa saja yang tidak berorientasi kepada tujuan itu dianggap tidak wujud. Ali Syari’ati berpendapat:
            Konsekuensi lebih jauh daripada pandangan hidup Tauhid ialah ditolaknya ketergantungan manusia kepada suatu kekuatan sosial, dan dikaitkannya manusia dalam semua dimensinya kepada kesadaran dan kehendak Yang Maha Kuasa. Dialah sumber segala bantuan, kepercayaan dan tempat semua orang memohon pertolongan. Dia merupakan suatu titik sentral, suatu paksi yang dikelilingi oleh segenap gerak alam semesta.[31]
D.    Islam Liberal-Rasional : Pembaharuan Islam Syiah
Doktor Ali Syari’ati adalah salah seorang pembaharu paham keagamaan mazhab Syiah, dan sering pula disebut sebagai “arsitek” revolusi Islam selain Ayatullah Rahullah Khomeini.[32]
Menurut kalangan Syi’ah, kekuasaan Nabi mencakup bidang politik manupun spiritual, dan karenanya, hanya beliau dapat menunjuk seorang pemimpin pengganti untuk masyarakatnya. Tokoh demikian, yang dengan tegas ditunjuk olehnya, adalah orang yang paling layak untuk melanjutkna misinya dan harus dipatuhi dalam segala hal. Di pihak lain, kaum Sunni berpendapat, merupakan kenyataan bahwa kaum muslimin di Madinah, segera setelah Nabi wafat, berkumpul disuatu tempat guna memilih sendiri pengganti kepemimpinan politik Nabi. Jelas bagi setiap mahasiswa yang mempelajari sejarah Islam permulaan, persoalannya tidaklah begitu mudah dan sederhana sepertii yang digambarkan Syari’ati. Disamping itu, dengan menganggap argumen kalangan Sunni sataraf dengan argumen Syi’ah yang telah lama ditegakkan, yaitu mengenai hak tunggal Ali untuk Imamat. Bagaimanapun, pembenaran satu-satunya untuk eksistensi Syi’ah adalah Imamat.[33]
Bagi Syi’ah, imamah merupakan ajaran pokok yang sangat penting, dimana tidak sempurna iman seseorang kecuali dengan meyakini kebenarannya. Syi’ah beranggapan bahwa barang siapa yang tidak bermazhab dengan mazhab mereka dalam hal imamah, maka dia bukan mikmin. Kendatipun terdapat perbedaan dalam menafsirkan bukan mukmin tersebut.[34]
Ada beberapa pandangan Syari’ati yang dipandang mayoritas ulama Syi’ah sebagai menyimpang dari paham Syi’ah murni. Diantara kekeliruan Syari’ati yang paling umum dipandang oleh ulama Syi’ah adalah; pertama, dalam sebuah tulisan tentang Nabi, Syari’ati dicurigai berpendapat, bahwa Syu>ra (lembaga pengambil keputusan secara bersama dan demokratis) merupakan sarana yang paling tepat dalam memilih pemimpin umat, ini bertentangan dengan pendapat dalam paham Syi’ah yang mengatakan, bahwa kepemimpinan umat merupakan washa>yat (warisan) dan wala>yat (pendelegasian otoritas) dari Nabi SAW kepada Ali ibn Abi Thalib, keturunannya dan para iman Syi’ah.
Kedua, syari’ati menggunakan sumber-sumber Sunni (sejarah karya Thabari dan biografi Ibnu Hasyim) dalam membicarakan kehidupan Nabi. Padahal dalam tradisi Syi’ah tabu meriwayatkan sejarah Nabi dari sumber-sumber Sunni. Periwayatan kehidupan Nabi haruslah didasarkan pada referensi Syiah. Dan, menurut pendapat ulama Syiah, terdapat sumber-sumber kepustakaan Syiah yang kuat dan terpercaya yang harus digunakan untuk menghindari kekeliruan.
Ketiga, syari’ati menggunakan kata ijma’ untuk mengartikan pendapat mayoritas. Sedangkan ulama Syiahmemahami istilah itu sebagai konsep teknis  yang menggambarkan kesepakatan ahli hukum Islam (syariat). Atas dasar ijma’ para ahli syariat inilah dapat dikeluarkan fatwa-fatwa.
Keempat, Syariati menyatakan, bahwa buah terlarang di taman surga adalah pengetahuan simbolis. Padahal paham Syiah menyatakan bahwa pendapat semacam itu sebgai pandangan Kristen yang tidak ada dasarnya di dalam tradisi Islam.
Kelima, pandangan Syariati yang dianggap bertentangan dengan paham Syiah: ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad sangat gembira melihat para sahabatnya shalat berjamaah ketika beliau sakit. Di sini, Syariati menerima pendapat Sunni yang menyatakan bahwa Nabi kemudian bangun dari tempat tidurnya yang menyertai mereka salat, serta mengambil tempat di samping belakang Abu Bakar dan tidak mengambil alih tugas memimpin salat. Yang ditolak paham Syiah pada umumnya dari riwayat ini, adalah bahwa peristiwa itu merupakan semacam isyarat dari Nabi bahwa Abu Bakarlah kelak yang menggantikan Nabi sebagai pemimpin umat (khalifah). Syiah berpendapat, peristiwa di atas tidaklah langsung berarti persetujuan Nabi akan tampilnya Abu Bakar kelak menjadi pengganti beliau memimpin umat Islam.
Pendapat Syariati yang berbeda dengan pandangan Syiah- dan juga Sunni-adalah bahwa konfosius, Sidharta Gautama, Zarathustra dan tokoh-tokoh sajarah lainnya adalah nabi-nabi. Mereka digolongkan Syariati sebagai nabi-nabi non-Ibrahimiyah yang merupakan pelanjut perjuangan Habil. Pandangan Syariati semacam ini boleh jadi bukan hanya digugat paham Syiah, tetapi penganut Islam sacara keseluruhan.[35]
Penafsiran Syariati tentang beberapa doktrin Syi’ah menimbulkan kecaman umum dari beberapa akhund (khatib-khatib rakyat, yang bergerak ke lapisan bawah masyarakat). Dalam kenyataannya, mereka membesar-besarkan kekurangan ini agar timbul kecaman masyarakat terhadap ceramah-ceramahnya.[36]
E.     Islam Liberal-Rasional : Konsep Intizar Dalam Ajaran Syi’ah
Bagi Syi’ah, imamah merupakan ajaran pokok yang sangat penting,  dimana tidak sempurna iman seseorang kecuali dengan meyakini kebenarannya. Syi’ah beranggapan bahwa barang siapa yang tidak bermazhab dengan mazhab mereka dalam hal imamah, maka dia bukan mikmin. Kendatipun terdapat perbedaan dalam menafsirkan bukan mukmin tersebut. Sebagian mereka menafsirkan dengan kufur dan sebagian menafsirkan dengan fasik.[37] Bahkan lebih ekstrim lagi disebutkan oleh al-Hulli, salah seorang ulama Syi’ah, bahwa menolak kebenaran konsep imamah adalah lebih buruk daripada menolak kenabian. Sedangkan al-Mufid beranggapan bahwa barangsiapa yang mengingkari salah satu daripada imam ahli bait, dan menolak apa yang telah diwajibkan Allah agar taat kepadaNya, maka ia termasuk kafir yang sesat dan wajib dijebloskan ke dalam neraka.[38]
Konsep intizat telah diakui oleh kalangan Syi’ah sejak hilangnya imam Syi’ah yang kedua belas. Dalam arti yang sangat umum, intizar berati keyakinan agama yang berdimensi eskatologis yang mengilhami seorang muslim untuk menunggu akhir zaman, kedatangan juru selamat, kebangkitan sesudah mati dan pengadilan akhir.[39]
Dalam pandangan Syari’ati, kaum Syi’ah telah menerima konsep ini secara pasif. Hal ini berarti sama saja dengan melegitimasi keadaan yang zalim dan penuh penindasan. Contoh kebekuan Syi’ah dari pandangan intizar ini adalah ritus tradisional berkabung untuk para imam dan sikap kaum Syi’ah yang berlindung dari situasi yang merugikan mereka dengan memimpikan kedatangan imam membebaskan mereka dari kezaliman sejarah. Bagi Syari’ati hal ini merupakan pola pikir yang harus di ubah. Ia berpandangan penantian tidak dilakukan dengan pasif, akan tetapi melalui upaya yang aktif merobah keadaan dan mempercepat kedatangan imam tersebut.[40]
Menurut Syari’ati, ajaran tentang intizar telah menimbulkan perdebatan dikalangan pemkir modern dan klasik. Ia melihat para pemikir modern Iran telah beranggapan bahwa mempertahankan ajaran intizar ini berarti telah berpegang pada khayalan dan khufarat dan menghalangi generasi ini memikirkan masa depan mereka dengan sadar dan tidak pasif.[41]
F.      Islam Liberal-Rasional : Gerakan Islam Revolusioner dan Marxisme
Pandangan tentang dunia menurut Ali Syari’ati adalah pemahaman yang dimiliki seseorang tentang wujud atau eksistensi. Misalnya, seseorang yang menyakini bahwa dunia ini mempunyai Pencipta Yang Sadar dan mempunyai kekuatan atau kehendak, dan bahwa dari catatan dan rekaman akurat yang disimpan, ia akan menerima ganjaran atas amal perbuatannya atau dia akan dihukum lantaran amal perbuatannya itu, maka ia adalah orang yang mempunyai pandangan tentang dunia religius. Berdasarkan pandangan tentang dunia inilah seseorang lalu mengatakan: ”Jalan hidupku mesti begini dan begitu dan aku mesti mengerjakan ini dan itu”, inilah makna memiliki ideologi agama. Dengan demikian, idealism Hegel, materialisme dialektik Marx, eksistensialisme Heiddeger, Taoisme Lao Tsu, wihdatul wujud al-Hallaj, semuanya adalah pandangan tentang dunia. Setiap pandangan tentang dunia ataupun mazhab pemikiran pasti akan memperbincangkan konsep manusia sebagai konsep sentral.[42]
Salah satu tema sentral dalam ideologi politik keagamaan Syari’ati adalah agama – dalam hal ini, Islam – dapat dan harus difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural mapun politik. Lebih tegas lagi, Islam dalam bentuk murninya – yang belum dikuasai kekuatan konservatif – merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari penjajahan politik, ekonomi dan kultural Barat. Ia merupakan problem akut yang dimunculkan kolonialisme dan neo-kolonialisme yang mengalienasikan rakyat dari akar-akar tradisi mereka.[43] Atas dasar ini, maka banyak pengamat menyebut Syari’ati sebagai “the ideologist of revolt”.[44]
Pandangan Ali Syari’ati ini, senada dengan pandangan Antonio Gramsci, yang menyatakan bahwa ideologi, lebih dari sekedar sistem ide. Ideologi secara historis memiliki keabsahan yang bersifat psikologis (ideologi memberikan spirit perjuangan). Selain itu, ideologi mengatur dan memberikan tempat bagi manusia untuk bergerak dan, mendapatkan kesadaran mengenai posisi mereka maupun perjuangan mereka dalam kehidupannya.[45]

Syari’ati menjelaskan tentang proses berubahan agama dari ideologi menjadi sebuah institusi sosial. Munculnya agama sebagai ideologi, papar Syari’ati, dimulai ketika para Nabi muncul di tengah-tengah suku-suku dan pemimpin gerakan-gerakan historis untuk membangun dan menyadarkan masyarakat. Ketika para nabi itu memproklamirkan semboyan-semboyah tertentu dalam membantu massa kemanusiaan, maka para pengikut Nabi kemudian mengelilingi nabi dan menyatakan untuk turut bersama-sama Nabi dengan sukarela. Dari sinilah, menurut Syari’ati, munculnya agama sebagai ideologi. Namun kemudian, agama itu kehilangan semangat aslinya dan mengambil bentuk agama sebagai institusi sosial.[46]
Islam lahir secara progresif dalam upaya merespon problem-problem masyarakat dan memimpin masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan dan cita-cita yang berharga. Dalam hal ini, Islam dipahami sebagai sebuah pandangan dunia yang komprehensif, dan diposisikan sebagai “agama pembebasan” yang concern dengan isu-isu sosial-politik seperti penindasan, diskriminasi, ketidakadilan dan sebagainya. Semangat Islam sebagai ideologi pembebasan mendorong terjadinya revolusi masyarakat Islam untuk membangun konstruksi peradaban baru yang progresif, partisipatif, tanpa penindasan dan ketidakadilan.
Dalam konteks global Syari’ati melihat ada problem besar masa depan dunia Islam, yaitu kolonialisme dan neo-kolonialisme oleh Barat. Hal ini telah mengalienasi masyarakat Muslim dari kebudayaan aslinya (turâts), karena mereka mau tidak mau harus mengikuti alur kebudayaan dan pola pikir yang telah “dipaksakan” oleh pihak kolonialis maupun neo-kolonialis. Senada dengan Syari’ati, Hasan Hanafi juga melihat bahwa kolonialisme atau westernisasi mempunyai pengaruh luas terhadap dunia Timur (Muslim), tidak hanya pada budaya dan konsepsi tentang alam, tetapi juga mengancam kemerdekaan peradaban. Bahkan, masih menurut Hanafi, juga merambah pada gaya kehidupan sehari-hari: bahasa, menifestasi kehidupan umum dan seni bangunan. Tidak hanya itu, keterbukaan ekonomi memaksa dunia Islam untuk membuka diri terhadap kapitalisme internasional, demikian juga dengan keterbukaan bahasa, maka konsekwensinya harus menerima kehadiran bahasa asing.[47]
Syari’ati memandang saat itu kolonialisme dan westernisasi telah melanda negara Dunia Ketiga tak terkeculai Iran. Akibat yang timbul dari hal itu adalah munculnya bentuk-bentuk korporasi multi-nasional, rasisme, penindasan kelas, ketidakadilan, dan mabuk kepayang terhadap Barat (Westoxication). Ia menyatakan bahwa kolonialisme Barat dan kepincangan sosial sebagai musuh terbesar masyarakat yang harus diberantas dalam jangka panjang. Tetapi untuk jangka pendek, menurut Syari’ati, ada dua musuh yang harus segera dimusnahkan: pertama, Marxisme vulgal – menjelma terutama dalam Marxisme-Stalinisme – yang banyak digemari para intelektual dan kaum muda Iran, dan kedua, Islam konservatif sebagaimana dipahami kaum mullahyang menyembunyikan Islam revolusioner dalam jubah ketundukan kepada para penguasa.[48]
Pertama-tama Syari’ati berusaha melakukan ideologisasi Islam dengan menunjukkan karakteristik revolusioner Islam. Ia berupaya membuktikan bahwa Islam agama yang sangat progresif, agama yang menentang penindasan. Syari’ati sangat antusias untuk membuktikan perlunya suatu reformasi bagi pemahaman Islam yang benar, sehingga dibutuhkan figur-figur yang mampu memimpin masyarakat kepada perubahan paradigma dan mental masyarakat. Mereka itulah yang menurut Syari’ati disebut para pemikir tercerahkan (rausanfikr). Kemudian Syari’ati menunjukkan bahwa Islam merupakan akar budaya masyarakat Iran yang telah lama mendarah daging. Dengan demikian masyarakat Iran harus kembali kepada warisan budaya Islam jika menginginkan perubahan.
Untuk mengkonstruksi Islam sebagai sebuah ideologi, mula-mula Syari’ati melakukan redifinisi tentang pemahaman ideologi itu sendiri Syari’ati menjelaskan bahwa ideologi terdiri dari kata “ideo” yang berarti pemikiran, gagasan, konsep, keyakinan dan lain-lain, dan kata “logi” yang berarti logika, ilmu atau pengetahuan. Sehingga ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan cita-cita.[49]
Ideologi, lanjut Syari’ati, menuntut agar kaum intelektual bersikap setia (commited). Ideologilah yang mampu merubah masyarakat, sementara ilmu dan filsafat tidak, arena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan, tanggungjawab dan keterlibatan untuk komitmen. Sejarah mengatakan, revolusi, pemberontakan hanya dapat digerakkan oleh ideologi.[50]
Dengan berpijak pada al-Qur’an, Syari’ati melihat keseluruhan sejarah sebagai sebuah konflik kekuatan-kekuatan, sementara itu manusia sendiri menjadi medan perang antara asal jasmaniahnya yang rendah dan semangat Ketuhanannya. Dialektika sejarah seperti ini sangat mudah diidentifikasi meminjam konsep dialektika sejarah Marxis, meskipun tidak secara keseluruhan.[51]
Untuk mewujudkan pribadi autentiknya, manusia semestinya tidak hanya menanggapi isyarat-isyarat eksternal, namun juga isyarat-isyarat mistis, kualitas-kualitas spiritual di dalam. Dengan demikian mereka akan semangkin dekat kepada Tuhan yang jauh dan tidak terpahami, Tuhan yang menyatukan semesta.[52]
Syariati menekankan keunggulan kekuatan-kehendak dan kemauan sebagai motor perubahan sejarah. Menggemakan dengan sangat nyaring bagaikan voluntaris revolusioner, dia mencela Marx, karena tidak memahami pentingnya dan peranan kekuatan-kekuatan revolusioner. Kehendak dan keteguhan hati untuk memprakarsai perubahan dan menciptakan sebuah masyarakat yang  berbudi harusdidorong dan dimotivasi oleh suatu ideologi revolusioner.
Syariati sangat yakin bahwa ideologi Islamnya akan mentebarkan suatu kesadaran sosial dan suatu keyakinan yang pada akhirnya akan membangkitkan ‘dorongan dan energi ajaib’ yang mengarah kepada revolusi sosial. Memuji kekuatan dan signifikansi kekuatan-kehendak yang bersandar pada kesadaran, dia menegaskan bahwa ‘suatu kesadaran individu yang siaga’ bisa ‘merebut sejarah dengan collar’ dan menggerakkannya dari feodalisme ke sosialisme’, yang dengan  demikian mengacu pada tahap-tahap perkembangan historis yang tertib dan determinisme historis.
Kemudia, dalam istilah yang lebih tersurat, Syariati menegaskan bahwa ‘para penjaga revolusioner’ memiliki kesanggupan dan kemampuan untuk menjalankan revolusi sosial. Mereka pun dapat mengarahkan kemampuan ‘sekelompok  intelektual yang tercerahkan’ guna memaksa sejarah untuk melampaui tahap-tahap perkembangan yang telah ditentukannya (Ali Rahnema, 2002: 451).
Para intelektual mungkin lebih banyak tertarik dengan sistem pemikiran dari sebuah agama. Tetapi ada dari sebagian mereka yang mererima sistem pemikiran itu sebagai sebuah sistem yang telah diwariskan kepada mereka, serta ada juga sebagian dari mereka yang sangat intens dalam pemikiran dan memandang perlunya rethingking terhadap sistem pemkiran. Dalam sebuah masyarakat yang stagnan dan tertutup, peluang semacam itu lebih kecil. Masyarakat Islam awal sangatlah dinamis memiliki vitalitas yang tinggi. Islam dapat menciptakan sebuah revolusi yang hebat, tidak dalam bidang agama tetapi juga dalam bidang sosial dan ekonomi. Ia telah membalikkan seluruh kepercayaan dan ideologi-ideologi lama. Islam memberikan umat manusia sebuah sistem nilai baru dan memperkuat sensivitas kemunusiaan mereka untuk melakukan perubahan menuju kepada suatu yang lebih baik. Islam menaruh perhatian yang besar terhadap perubahan dan mempertanyakan segala sesuatu yang telah berlangsung lama. Ia mendorong manusia untuk memikirkan kembali kepercayaan-kepercayaan nenek moyang mereka. Segala sesuatu yang dipercayai oleh nenek moyang tersebut tidaklah seluruhnya benar dan berguna.[53]

G.    Kesimpulan
Menyeru Kepada Tauhid. Tauhid sebagai dasar ajaran Islam yang utama telah mengalami perluasan ekoran perdebatan para ulama ilmu kalam, sehingga penafsiran Tauhid menjadi samar dan tidak jelas. Munculnya perdebatan yang terus-menerus tentang fungsi akal dan wahyu, kebebasan manusia dalam perbuatan, kedudukan orang-orang yang berdosa besar, dan lain-lain telah menjadikan makna Tauhid hanya berputar di ruang-ruang seminar yang disarati dengan sejumlah argumantasi ketuhanan yang serba rumit.
Pembaharuan Islam Syi’ah. Bagi Syi’ah, imamah merupakan ajaran pokok yang sangat penting, dimana tidak sempurna iman seseorang kecuali dengan meyakini kebenarannya. Syi’ah beranggapan bahwa barang siapa yang tidak bermazhab dengan mazhab mereka dalam hal imamah, maka dia bukan mikmin. Kendatipun terdapat perbedaan dalam menafsirkan bukan mukmin tersebut.
Konsep Intizar Dalam Ajaran Syi’ah. Konsep intizat telah diakui oleh kalangan Syi’ah sejak hilangnya imam Syi’ah yang kedua belas. Dalam arti yang sangat umum, intizar berati keyakinan agama yang berdimensi eskatologis yang mengilhami seorang muslim untuk menunggu akhir zaman, kedatangan juru selamat, kebangkitan sesudah mati dan pengadilan akhir.
Gerakan Islam Revolusioner dan Marxisme. Islam lahir secara progresif dalam upaya merespon problem-problem masyarakat dan memimpin masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan dan cita-cita yang berharga. Untuk mewujudkan pribadi autentiknya, manusia semestinya tidak hanya menanggapi isyarat-isyarat eksternal, namun juga isyarat-isyarat mistis, kualitas-kualitas spiritual di dalam. Dengan demikian mereka akan semangkin dekat kepada Tuhan yang jauh dan tidak terpahami, Tuhan yang menyatukan semesta.


Wa Allah a’lam bi al-S{awa>b
Ma> al-Taufiq wa al-H{ida>yah illa> bi Alla>h













DAFTAR PUSTAKA

Ali Al Salus, Ensiklopedi Sunni-Syi’ah, Pustaka Al-Kausar, Jakarta, 2001
Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam (Bandung: Mizan, 1994)
Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar Ideologi Iran” dalam  Historiografi Islam Kontemporer : Wacana, Aktualitas, dan Aktor  Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002)
Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002)
Charles Kurzman, Ed, “Islam dan Kemanusiaan” dalam Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global, (Jakarta: Paramadina, 2001).
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES, 1980)
John L. Esposito (ed), “Ali Syariati, Ideolog Revolusi Iran”, dalam Dinamika Kebangunan Islam : Watak, Proses, dan Tantangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 1987).
Khairunnas Jamal, “Konsep Intizar Menurut Ali Syariati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume VI, Nomor 2, (Juli-Desember 2003), 69.
M. Natsir, Islam Sebagai Ideologie, edisi ke-2 (Jakarta: Penyiaran Ilmu, 1951).
Nikki R Keddie, Root of Revolution: An Interpretative History of Modern Iran (New Haven: Yale University Press, 1981)
Roger Simon, Pemikiran Politik Gramsci (Cet, I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999).
Saifullah, “Tauhid, Imamah dan Peradaban Barat: Menelusuri Pemikiran Ali Syari’ati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume V nomor 2, (Juli- Desember 2002)
Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010).


*Penulis adalah alumni SMA Yapita, Surabaya. Kini menjadi mahasiswi Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. kini sedang Studi Program Sarjana (S1) dialmamaternya, Pekanbaru.
[1]Azyumardi Azra, Historiografi Islam Kontemporer, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 236.
[2] pertama, gerakan yang memandang agar seharusnya umat Islam harus kembali ke pangkal; menghilangkan semua khurafat dan bid’ah serta kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Seperti yang dikenal dengan gerakan Wahabiah, dengan tokohnya Muhammad bin Abdul Wahhab. Kedua, gerakan yang memandang agar umat Islam kembali pada persatuan dan keluar dari lingkup penjajahan bangsa lain. Salah satu tokohnya ialah Jamaluddin al-Afghani. Ketiga, gerakan yang melihat bahwa keterbelakangan umat Islam adalah tertutupnya pintu ijtihad. Karena mereka melihat bahwa Ijtihad merupakan jalan keluar agar umat Islam dapat kembali membangun peradabanya, dengan menerapkan Rasional-Liberal dengan mengambil nilai-nilai dari Negara yang maju taraf kehidupannya yang relevan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Salah satu Tokohnya ialah Muhammad Abduh. (penulis dapati tulisan ini dalam makalah Alimuddin Hassan Palawa dengan judul Syeid Amer Ali untuk tugas mata kuliah Pemikiran Modern Dalam Islam 7 mei 2002).
[3] Islam “dari permulaan merupakan suatu masyarakat politik”, kata Sir Mohammad Iqbal, The Reconstructuon of Religious Thought in Islam (Lahore: Shaikh Muhammad Ashraf, 1951), halaman 153. H.A.R. Gibb mengatakan di dalam Whither Islam (London: Victor Gollancz Ltd., 1932), halaman 12, “Sebenarnya Islam merupakan lebih dari sekedar suatu sistem teologi saja, Islam adalah suatu peradaban yang komplit”.
[4] M. Natsir, Islam Sebagai Ideologie, edisi ke-2 (Jakarta: Penyiaran Ilmu, 1951).
[5] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES, 1980), cet. I, 1-2.
[6] Khairunnas Jamal, “Konsep Intizar Menurut Ali Syariati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume VI, Nomor 2, (Juli-Desember 2003), 69.
[7] John L. Esposito (ed), “Ali Syariati, Ideolog Revolusi Iran”, dalam Dinamika Kebangunan Islam : Watak, Proses, dan Tantangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 1987), 249.
[8] Saifullah, “Tauhid, Imamah dan Peradaban Barat: Menelusuri Pemikiran Ali Syari’ati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume V nomor 2, (Juli- Desember 2002), 70-71.
[9] Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar Ideologi Iran” dalam  Historiografi Islam Kontemporer : Wacana, Aktualitas, dan Aktor  Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 209
[10] Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar Ideologi Iran” dalam  Historiografi Islam Kontemporer : Wacana, Aktualitas, dan Aktor  Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 215.
[11] Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar Ideologi Iran” dalam  Historiografi Islam Kontemporer : Wacana, Aktualitas, dan Aktor  Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 209
[12] Khairunnas Jamal, “Konsep Intizar Menurut Ali Syariati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume VI, Nomor 2, (Juli-Desember 2003), 70.
[13] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 147-148.
[14] Ali Syari’ati, Haji, terj. Anas Mahauddin, (Pustaka, Bandung, 2000), 5.
[15] Khairunnas Jamal, “Konsep Intizar Menurut Ali Syariati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume VI, Nomor 2, (Juli-Desember 2003), 70.
[16] Charles Kurzman, Ed, “Islam dan Kemanusiaan” dalam Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global, (Jakarta: Paramadina, 2001), 299.
[17] John L. Esposito (ed), “Ali Syariati, Ideolog Revolusi Iran”, dalam Dinamika Kebangunan Islam : Watak, Proses, dan Tantangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 1987), 237-238.
[18] Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar Ideologi Iran” dalam  Historiografi Islam Kontemporer : Wacana, Aktualitas, dan Aktor  Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 210.
[19] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 149.
[20] John L. Esposito (ed), “Ali Syariati, Ideolog Revolusi Iran”, dalam Dinamika Kebangunan Islam : Watak, Proses, dan Tantangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 1987), 240.
[21] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 150.
[22] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 149-150.
[23] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 152.
[24] Quran, S. 2:30. Dalam Islamsinasi ia membahas arti dinamis tauhid yang dikatakan diperolehnya dari ayahnya M. Syariati, hlm 74-114. Lihat juga catatan kaki 52 pada halaman 123. Untuk pembahasan tauhidnya, lihat di bawah.

øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  
“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

sumber :http://winonahaniifa.blogspot.co.id/2014/11/pemikiran-ali-syariati.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan Pengajaran PAII disekolah Umum

Mencari kebenaran Hakiki

Filsafat Martabat tujuh dalam Paradigma Pendidikan Karakter