Pemikiran Ali Syariati Tentang Pendidikan
A.
Pendahuluan
Saat
sekarang ini, sungguh merupakan awal kebangkitan Islam, dengan ditandai makin
suburnya gerakan-gerakan
pembaharuan yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Islam. Pembaharuan disini ialah
usaha para tokoh Islam untuk memberikan pengarahan kepada umat Islam dalam
mengikuti perkembangan zaman, yang ditandai dengan modernnya tata kehidupan
manusia dewasa ini. Para tokoh Islam ini memiliki perbedaan dalam mengusahakan
pembaharuan dalam kajian Islam untuk menghadapi modernitas kehidupan saat
sekarang ini.[2]
Disamping itu, menempatkan kedudukan agama yang jelas di
dalam masyarakat merupakan masalah yang harus dihadapi pula oleh negeri-negeri
Islam tersebut. Semenjak berdiri Islam meliputi dua aspek, yaitu agama dan
masyarakat atau politik.[3] Islam
tidak memisahkan persoalan-persoalan rohani dan persoalan-persoalan dunia,
tetapi mencakup kedua segi ini. Hukum Islam (syari’at) mengatur kedua
segi itu, hubungannya manusia dengan Tuhan serta hubungan manusia dengan
sesamanya.[4] Di waktu
yang lalu berbagai jalan untuk menundukkan masalah ini telah dicoba, tetapi
kalangan Islam sendiri merasakan bahwa hasil yang dicapai masih sangat terbatas
dan karena itu perlu lebih disempurnakan lagi.[5]
Berkembangnya berbagai aliran dalam Islam telah
memberikan warna dan corak tersendiri bagi umat dalam berbagai hal. Diantara
aliran yang berkembang tersebut adalah aliran Syi’ah yang memiliki pola pikir
yang berbeda dari aliran Sunni. Perbedaan ini telah memperkaya pola pikir umat
Islam dalam berbagai aspek, temasuk dalam masalah kalam atau teologi. Meskipun
memiliki berbagai perpedaan mendasar antara Sunni dan Syi’ah, namun ada beberapa
kesamaan yang mesti digali untuk mendekatkan kedua belah pihak ini. Salah satu
diantara hal yang menjadi perhatian kedua golongan ini adalah masalah
kemunculan seorang “\Imam Mahdi” di akhir zaman yang akan menjadi penegak
keadilan.[6]
Islam, menurut Syari’ati, mendasarkan risalahnya pada tauhid
dan menyerukan kepada manusia agar mengakui keesaan Tuhan, sehingga mereka akan
diselamatkan.[7]
Menurut Fazlur Rahman, Ali
Syari’ati adalah pemikir modernis yang membangkitkan semangat rakyat untuk
menentang dominasi asing pada negerinya. Ia berusaha menegakkan Islam dengan
metode baru yang serasi melalui pendekatan sosiologi historis dalam memahami al
Qur’an. Sedangkan Mongol Bayat menganalisis bahwa hasil karya Ali Syari’ati
yang paling kekal adalah usaha untuk mengungkapkan konsepsi Islam yang baru,
bersemangat dan penuh inspirasi. Mengubah konsep Islam yang beku menjadi
ideologi politik revolusioner yang tangguh.[8]
Doktor Ali Syari’ati
adalah salah seorang pembaharu paham keagamaan mazhab Syiah, dan sering pula
disebut sebagai “arsitek” revolusi Islam selain Ayatullah Rahullah Khomeini.[9]
Menurut Syari’ati, paham
Syiah harus ditransformasikan menjadi Islam ideologis. Syiah telah terlampau
lama meratapi nasib karena tertindas selama berabad-abad di tangan para penindas.
Pembebasan Syiah dari ketertindasan itu tidak dapat dicapai semata-mata dengan
pembacaan riwayat hidup para syuhada Syiah (rawzah knawi) dan berkabung
(ta’ziyah). Waktu telah datang untuk menghentikan ratapan dan
pembicaraan yang sia-sia dan mulai bertindak dalam aksi sosial.[10]
Untuk itu, tulisan
sedeerhana ini akan memaparkan pandangan-pandangan Ali Syari’ati secara umum
tentang menyeru kepada tauhid. Berikutnya, tulisan ini menyorot, diantara
sekian banyak pokok-pokok pemikirannya, tiga diantaranya tentang: (i)
pembaharuan Islam Syiah; (ii) Konsep Intizar Dalam Ajaran Syi’ah; (iii).dan
Gerakan Islam Revolusioner dan Marxisme. Dan merupakan suatu keniscayaan bagi
makalah ini untuk memulai dengan memaparkan riwayah hidup tokoh dimaksud
seala-kadarnya.
B.
Riwayat Hidup Ali
Syari’ati
Doktor Ali Syariati adalah
salah seorang pembaharu paham keagamaan mazhab Syiah, dan sering pula disebut sebagai
“arsitek” revolusi Islam selain Ayatullah Rahullah Khomeini.[11]
Syari’ati dilahirkan di derah Mizanan yang terletak di pinggiran kota Mashad
Iran pada tahun 1933.[12] Ayahnya
bernama Muhammad Taqi Syari’ati adalah seorang ulama dan guru besar terkenal di
Iran. Adapun kakek dari ibunya juga seorang ulama terkenal, Ali Syariati lahir
dan dibesarkan di lingkungan yang agamis dan pembentukan kepribadian Syariati
kecil langsung dari ayahnya sendiri.[13]
Di Mashad inilah ia
menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya. Ketika belajar disekolah
pendidikan guru, ia berkenalan dengan pemuda-pemuda dari golongan masyarakat
ekonomi lemah dan turut merasakan kemiskinan mereka.[14]
Syari’ati merupakan seorang Sosiolog, ahli polotik dan syariat. Ayahnya
merupakan seorang guru di Sekolah Menengah Atas dala bidang keislaman. Pada
usia 17 tahun, ia belajar di sekolah Primary Teacher. Dalam usia 20 tahun ia
mendirikan organisasi persatuan pelajar Islam Iran.[15]
Dr. Ali Syari’ati
(1933-1977) adalah salah seorang figur paling populer di Iran sekarang. Semasa
revolusi tahun 1979, foto dan tulisan-tulisannya tersebar luas di seluruh
penjuru Iran.[16]
Syariati memulai karirnya sebagai guru sesudah menyelesaikan pendidikan di
sekolah menengah dan di Akademi Pendidikan Guru. Ia mengajar di sekitar Meshad
(1956) selama beberapa tahun. Diikutinya program tingkat prasarjana pada
Fakultas Sastra yang baru didirikan di Universitas Meshad (1956). Selama
tahun-tahun itu, ia meningkatkan kesadaran keagamaan melalui tulisan-tulisan
dan ceramah-ceramahnya yang mengesankan di kalangan peserta muda di pusat
organisasi, yang ternyata juga menumpuk perkembangan intelektualitas dan
keagamaannya sendiri.[17]
Pada 1960, ia berhasil
menyelesaikan kuliahnya dengan nilai memuaskan sehingga beroleh beasiswa untuk
melanjutkan pelajaran ke Prancis. Di Prancis, ia kuliah dan berhasil meraih
gelar doktor pada bidang sosiologi dan sejarah Islam dari Universitas Paris.
Selama berada di Prancis, Syari’ati terlibat dalam dialog langsung yang intens
dengan pemikiran cendikiawan Barat terkemuka semacam Frantz Fanon, Jean Paul
Sarte, Gures Gurevich, Henry Bergson, Albert Camus, Louis Massignon, dan lain-lain.[18]
Walaupun berada di Paris,
namun pribadi Syariati yang penuh dengan semangat perjuangan menegakkan
kebenaran dan keadilan, ia tetap berjuang menentang rezim Iran. Antara 1962 dan
1963, waktu Syariati tampaknya habis tersisa untuk aktivitas politik dan jurnalistiknya.
Pemikirannya yang cemerlang dan gerakan politiknya yang menggugah semangat kaum
muda menjadikan dia sebagai figur oposan yang sangat spektakuler dalam mengubah
tatanan politik atas kekuasaan hegemoni
Syah Pahlevi. Karena wataknya yang kritis, sekembalinya di Iran dengan gelar
doktoral tahun 1963, Syariati menjadi sosok yang karismatis yang
kuliah-kuliahnya di universitas Masyhad sangat memukau dan memikat audiens,
karena isi kuliahnya yang membangkitkan orang untuk berpikir.[19]
Syariati kemabali ke Iran
1964, dan segera di tahan serta dipenjarakan selama enam bulan, karena dituduh
turut dalam kegiatan anti pemerintah (Iran) di Perancis. Sesuadah dibebaskan,
ia melamar menjadi dosen di Fakultas Sastra pada Universitas Teheran, tapi
ditolak. Sesudah itu, dia mengajar pada berbagai sekolah menengah dan Akademi
Pertanian, sampai tersedia jabatan dosen ilmu sejarah pada Universitas Meshad
pada 1966. Dalam waktu singkat, Syariati menjadi dosen paling populer di
universitas, dan pembicara pada sebagian besar acara keagamaan yang penting,
yang diselenggarakan oleh warga universitas. Gayanya, dengan baik dapat
dilukiskan sebagai inovasi dalam konteks Iran, baik dalam metode maupun dalam
isi.[20]
Pada tahun 1969, ia
menerbitkan karya monumental Eslamshenasi (Islamology) yang didasarkan pada
naskah-naskah kuliah yang diberikan dalam suatu kursus tentang sejarah Islam.
Secara garis besar, buku ini berisi benih-benih pemikiran Syariati yang
menyatakan penentangannya terhadap kelompok intelektual terbaratkan (gharbzadigi/
westoxication), yang dikiranya hanya didasarkan pada hasil terjemahan
sumber asing yang tidak mampu melahirkan karya intelektual mandiri yang asli. Ia
juga menyerang kaum ulama resmi pemerintah dan tradisional yang hanya bisa
menjadi kaum lemah dan terhegemoni oleh kekuasaan besar. Mereka tidak mampu
berbuat lebih dari sekedar seorang rohaniwan yang berbicara dari tempat sunyi
dari realitas masyarakatnya.[21]
Karena begitu karismatis, akhirnya
pemerintahan Syah Pahlevi berang. Karena merasa terancam, pada 16 Mei 1977,
Syariati meninggalkan Iran. Ia mengganti namanya menjadi Ali Syariati. Tentara
Syah, SAVAK akhirnya mengetahui kepergian Ali Syariati mereka mengontak agen
mereka di luar negeri. Di London Inggris, pada 19 Juni 1977 janazah Ali
Syariati terbujur di lantai tempat ia menginap. Kematian yang tragis seorang
pejuang Islam yang teguh memperjuangkan keyakinannya. Ia syahid dalam
memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Ali Syariati telah mengikuti jejak
sahabat Nabi dan Imam Ali yang begitu dikagumi dan dijadikan simbol
perjuangannya, Abu Dzar Al-Ghifari.[22]
C.
Islam Liberal-Rasional :
Menyeru Kepada Tauhid
Pemikiran Syari’ati yang
sangat penting adalah ajakan untuk kembali kepada “Islam yang benar”
sebagaimana yang banyak disuarakan oleh kaum pembaru Islam seperti yang
dilakukan oleh Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, maupun dari
pembaru Islam di berbagai negara dan juga di Indonesia.[23]
Islam, menurut Syari’ati,
mendasarkan risalahnya pada tauhid dan menyerukan kepada manusia agar
mengakui keesaan Tuhan, sehingga mereka akan diselamatkan. Wawasan diselamatkan
tidak hanya soteriologis; malahan ia merupakan janji penyelamatan manusia dari
segala jenis pembatasan dan tekanan, di kedua dunia, sekarang dan hari nanti.
Untuk tujuan ini, disamping menghendaki manusia agar mengakui tauhid,
Tuhan mengejarkan padanya “nama semua benda”,[24] yaitu dianugerahkan-Nya kepada manusia
kemampuan untuk menanggapi dan memahami kebanaran-kebenaran ilmiah yang menyatu
dalam dunia, dan juga belajar dari pengamatan empiris tentang tanggung jawabnya
terhadap diri sendiri dan sesama manusia, agar “diselamatkan”. Hubungan dan
keeratan khusus antara manusia dan Tuhan mengandung arti tanggung jawab manusia
individual maupun sosial, dalam kapasitasnya sebagai wakil Tuhan, untuk
menciptakan suatu kahidupan yang baru, suatu tatanan sosial yang adil – nizam-i
tauhid – yang menhendaki tauhid.[25]
Menurut Fazlur Rahman, Ali
Syari’ati adalah pemikir modernis yang membangkitkan semangat rakyat untuk
menentang dominasi asing pada negerinya. Ia berusaha menegakkan Islam dengan
metode baru yang serasi melalui pendekatan sosiologi historis dalam memahami al
Qur’an. Sedangkan Mongol Bayat menganalisis bahwa hasil karya Ali Syari’ati
yang paling kekal adalah usaha untuk mengungkapkan konsepsi Islam yang baru,
bersemangat dan penuh inspirasi. Mengubah konsep Islam yang beku menjadi
ideologi politik revolusioner yang tangguh.[26]
Tauhid adalah prinsip
dasar agama samawi. Merujuk kepada al-Qur’an, dapat ditemukan bahwa tugas para
Nabi dan Rasul adlah menyampaikan ajaran Tauhid, sebagaimana dalam Q.S. 21 :
25, “Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu kecuali Kami
mewahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”.
Hal ini juga terlihat ketika Nabi Musa menerima ajaran Allah yang diabadikan
dalam Q.S. 20 : 13-14, “Aku yang memilihmu, maka dengarkan dengan teliti apa
yang akan diwahyukan (kepadamu): Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku.
Sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu. Nabi Isa juga
mengajarkan tauhid kepada umatnya seperti yang termaktub dalam Q.S. 5 : 72.
“Isa berkata (kepada Bani Israil), “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku
dan Tuhanmu. Sesungguhnya siapa yang memepersekutukan-Nya maka Allah
mengharamkan baginya surga, dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi
orang-orang yang aniaya.”[27]
Penjelasan
tauhid semakin mantap dan jelas hingga mencapai puncaknya dengan kehadiran Nabi
s.a.w. Uraian al-Quran tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad dimulai dengan
pengenalan tentang perbuatan dan sifat-Nya. Ini terlihat jelas pada wahyu
pertama Q.S. 96 : 1-5, “Bacalah demi Tuhanmu yang menciptakan (segala
sesuatu). Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan
Tuhanmulah yang (bersifat) Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan Qalam,
mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.” [28]
Dalam
sejarah pemikiran ilmu kalam, Tauhid sebagai dasar ajaran Islam yang utama
telah mengalami perluasan ekoran perdebatan para ulama ilmu kalam, sehingga
penafsiran Tauhid menjadi samar dan tidak jelas. Munculnya perdebatan yang
terus-menerus tentang fungsi akal dan wahyu, kebebasan manusia dalam perbuatan,
kedudukan orang-orang yang berdosa besar, dan lain-lain telah menjadikan makna
Tauhid hanya berputar di ruang-ruang seminar yang disarati dengan sejumlah
argumantasi ketuhanan yang serba rumit. Kemudian ditambahkan pula keatasnya
pendapat dan pemikiran dari berbagai-bagai aliran ilmu kalam seperti
Mu’tazilah, Asy’ariah, Maturidiah, Syiah dKemudian ditambahkan pula keatasnya
pendapat dan pemikiran dari berbagai-bagai aliran ilmu kalam seperti Mu’tazilah,
Asy’ariah, Maturidiah, Syiah dan sebagainya, yang akhirnya mengakibatkan
terlepasnya Tauhid dari dinamika kehidupan umat.
Ali
Syari’ati berpendapat bahwa untuk membangun masyarakat Islam, Tauhid harus
diturunkan ke dalam aktifitas dan kehidupan umat Islam.[29]
Dalam
suatu masyarakat yang berdasarkan prinsip tauhid, para anggotanya harus
tunduk hanya kepada kehendak Tuhan. Kehendaknya diwujudkan dalam norma-norma
yang mengatur masyarakat. Manusia harus menyesuaikan kehendaknya dengan
kehendak Tuhan, dengan cara mengikuti hukum-hukum alam yang tetap, tidak
berubah, dan secara ilmiah dapat dibuktikan.[30]
Syirik
sebagai lawan dari Tauhid merupakan kontradiksi antara alam fisik dan alam
metafisik, antara materi dengan arti, antara dunia dengan akhirat, antara
inderawi dengan supra inderawi. Sedangkan Tauhid menganggap bahwa
seluruh anasir alam, proses kejadian dan tanda-tanda kewujudannya, adalah turut
serta dalam gerakan harmoni ke arah matlamat tunggal. Apa saja yang tidak
berorientasi kepada tujuan itu dianggap tidak wujud. Ali Syari’ati berpendapat:
Konsekuensi
lebih jauh daripada pandangan hidup Tauhid ialah ditolaknya ketergantungan
manusia kepada suatu kekuatan sosial, dan dikaitkannya manusia dalam semua
dimensinya kepada kesadaran dan kehendak Yang Maha Kuasa. Dialah sumber segala
bantuan, kepercayaan dan tempat semua orang memohon pertolongan. Dia merupakan
suatu titik sentral, suatu paksi yang dikelilingi oleh segenap gerak alam
semesta.[31]
D.
Islam Liberal-Rasional :
Pembaharuan Islam Syiah
Doktor Ali Syari’ati
adalah salah seorang pembaharu paham keagamaan mazhab Syiah, dan sering pula
disebut sebagai “arsitek” revolusi Islam selain Ayatullah Rahullah Khomeini.[32]
Menurut kalangan Syi’ah,
kekuasaan Nabi mencakup bidang politik manupun spiritual, dan karenanya, hanya
beliau dapat menunjuk seorang pemimpin pengganti untuk masyarakatnya. Tokoh
demikian, yang dengan tegas ditunjuk olehnya, adalah orang yang paling layak
untuk melanjutkna misinya dan harus dipatuhi dalam segala hal. Di pihak lain,
kaum Sunni berpendapat, merupakan kenyataan bahwa kaum muslimin di Madinah,
segera setelah Nabi wafat, berkumpul disuatu tempat guna memilih sendiri
pengganti kepemimpinan politik Nabi. Jelas bagi setiap mahasiswa yang
mempelajari sejarah Islam permulaan, persoalannya tidaklah begitu mudah dan
sederhana sepertii yang digambarkan Syari’ati. Disamping itu, dengan menganggap
argumen kalangan Sunni sataraf dengan argumen Syi’ah yang telah lama
ditegakkan, yaitu mengenai hak tunggal Ali untuk Imamat. Bagaimanapun,
pembenaran satu-satunya untuk eksistensi Syi’ah adalah Imamat.[33]
Bagi Syi’ah, imamah
merupakan ajaran pokok yang sangat penting, dimana tidak sempurna iman
seseorang kecuali dengan meyakini kebenarannya. Syi’ah beranggapan bahwa barang
siapa yang tidak bermazhab dengan mazhab mereka dalam hal imamah, maka dia
bukan mikmin. Kendatipun terdapat perbedaan dalam menafsirkan bukan mukmin
tersebut.[34]
Ada beberapa pandangan
Syari’ati yang dipandang mayoritas ulama Syi’ah sebagai menyimpang dari paham
Syi’ah murni. Diantara kekeliruan Syari’ati yang paling umum dipandang oleh
ulama Syi’ah adalah; pertama, dalam sebuah tulisan tentang Nabi,
Syari’ati dicurigai berpendapat, bahwa Syu>ra (lembaga pengambil
keputusan secara bersama dan demokratis) merupakan sarana yang paling tepat
dalam memilih pemimpin umat, ini bertentangan dengan pendapat dalam paham Syi’ah
yang mengatakan, bahwa kepemimpinan umat merupakan washa>yat
(warisan) dan wala>yat (pendelegasian otoritas) dari Nabi SAW kepada
Ali ibn Abi Thalib, keturunannya dan para iman Syi’ah.
Kedua, syari’ati menggunakan sumber-sumber Sunni (sejarah karya
Thabari dan biografi Ibnu Hasyim) dalam membicarakan kehidupan Nabi. Padahal
dalam tradisi Syi’ah tabu meriwayatkan sejarah Nabi dari sumber-sumber Sunni.
Periwayatan kehidupan Nabi haruslah didasarkan pada referensi Syiah. Dan,
menurut pendapat ulama Syiah, terdapat sumber-sumber kepustakaan Syiah yang
kuat dan terpercaya yang harus digunakan untuk menghindari kekeliruan.
Ketiga, syari’ati menggunakan kata ijma’ untuk
mengartikan pendapat mayoritas. Sedangkan ulama Syiahmemahami istilah itu
sebagai konsep teknis yang menggambarkan
kesepakatan ahli hukum Islam (syariat). Atas dasar ijma’ para ahli
syariat inilah dapat dikeluarkan fatwa-fatwa.
Keempat, Syariati menyatakan, bahwa buah terlarang di taman surga
adalah pengetahuan simbolis. Padahal paham Syiah menyatakan bahwa pendapat
semacam itu sebgai pandangan Kristen yang tidak ada dasarnya di dalam tradisi
Islam.
Kelima, pandangan Syariati yang dianggap bertentangan dengan
paham Syiah: ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad sangat gembira melihat para
sahabatnya shalat berjamaah ketika beliau sakit. Di sini, Syariati menerima
pendapat Sunni yang menyatakan bahwa Nabi kemudian bangun dari tempat tidurnya
yang menyertai mereka salat, serta mengambil tempat di samping belakang Abu
Bakar dan tidak mengambil alih tugas memimpin salat. Yang ditolak paham Syiah
pada umumnya dari riwayat ini, adalah bahwa peristiwa itu merupakan semacam
isyarat dari Nabi bahwa Abu Bakarlah kelak yang menggantikan Nabi sebagai
pemimpin umat (khalifah). Syiah berpendapat, peristiwa di atas tidaklah
langsung berarti persetujuan Nabi akan tampilnya Abu Bakar kelak menjadi
pengganti beliau memimpin umat Islam.
Pendapat Syariati yang
berbeda dengan pandangan Syiah- dan juga Sunni-adalah bahwa konfosius, Sidharta
Gautama, Zarathustra dan tokoh-tokoh sajarah lainnya adalah nabi-nabi. Mereka
digolongkan Syariati sebagai nabi-nabi non-Ibrahimiyah yang merupakan pelanjut
perjuangan Habil. Pandangan Syariati semacam ini boleh jadi bukan hanya digugat
paham Syiah, tetapi penganut Islam sacara keseluruhan.[35]
Penafsiran Syariati
tentang beberapa doktrin Syi’ah menimbulkan kecaman umum dari beberapa akhund
(khatib-khatib rakyat, yang bergerak ke lapisan bawah masyarakat). Dalam
kenyataannya, mereka membesar-besarkan kekurangan ini agar timbul kecaman
masyarakat terhadap ceramah-ceramahnya.[36]
E.
Islam Liberal-Rasional :
Konsep Intizar Dalam Ajaran Syi’ah
Bagi Syi’ah, imamah
merupakan ajaran pokok yang sangat penting,
dimana tidak sempurna iman seseorang kecuali dengan meyakini
kebenarannya. Syi’ah beranggapan bahwa barang siapa yang tidak bermazhab dengan
mazhab mereka dalam hal imamah, maka dia bukan mikmin. Kendatipun terdapat
perbedaan dalam menafsirkan bukan mukmin tersebut. Sebagian mereka menafsirkan
dengan kufur dan sebagian menafsirkan dengan fasik.[37] Bahkan
lebih ekstrim lagi disebutkan oleh al-Hulli, salah seorang ulama Syi’ah, bahwa
menolak kebenaran konsep imamah adalah lebih buruk daripada menolak kenabian.
Sedangkan al-Mufid beranggapan bahwa barangsiapa yang mengingkari salah satu
daripada imam ahli bait, dan menolak apa yang telah diwajibkan Allah
agar taat kepadaNya, maka ia termasuk kafir yang sesat dan wajib dijebloskan ke
dalam neraka.[38]
Konsep intizat telah
diakui oleh kalangan Syi’ah sejak hilangnya imam Syi’ah yang kedua belas. Dalam
arti yang sangat umum, intizar berati keyakinan agama yang berdimensi
eskatologis yang mengilhami seorang muslim untuk menunggu akhir zaman,
kedatangan juru selamat, kebangkitan sesudah mati dan pengadilan akhir.[39]
Dalam pandangan Syari’ati,
kaum Syi’ah telah menerima konsep ini secara pasif. Hal ini berarti sama saja
dengan melegitimasi keadaan yang zalim dan penuh penindasan. Contoh kebekuan
Syi’ah dari pandangan intizar ini adalah ritus tradisional berkabung untuk para
imam dan sikap kaum Syi’ah yang berlindung dari situasi yang merugikan mereka
dengan memimpikan kedatangan imam membebaskan mereka dari kezaliman sejarah.
Bagi Syari’ati hal ini merupakan pola pikir yang harus di ubah. Ia berpandangan
penantian tidak dilakukan dengan pasif, akan tetapi melalui upaya yang aktif
merobah keadaan dan mempercepat kedatangan imam tersebut.[40]
Menurut Syari’ati, ajaran
tentang intizar telah menimbulkan perdebatan dikalangan pemkir modern dan
klasik. Ia melihat para pemikir modern Iran telah beranggapan bahwa
mempertahankan ajaran intizar ini berarti telah berpegang pada khayalan dan khufarat
dan menghalangi generasi ini memikirkan masa depan mereka dengan sadar dan
tidak pasif.[41]
F.
Islam Liberal-Rasional :
Gerakan Islam Revolusioner dan Marxisme
Pandangan tentang dunia menurut Ali
Syari’ati adalah pemahaman yang dimiliki seseorang tentang wujud atau
eksistensi. Misalnya, seseorang yang menyakini bahwa dunia ini mempunyai
Pencipta Yang Sadar dan mempunyai kekuatan atau kehendak, dan bahwa dari catatan
dan rekaman akurat yang disimpan, ia akan menerima ganjaran atas amal
perbuatannya atau dia akan dihukum lantaran amal perbuatannya itu, maka ia
adalah orang yang mempunyai pandangan tentang dunia religius. Berdasarkan
pandangan tentang dunia inilah seseorang lalu mengatakan: ”Jalan hidupku mesti
begini dan begitu dan aku mesti mengerjakan ini dan itu”, inilah makna memiliki
ideologi agama. Dengan demikian, idealism Hegel, materialisme dialektik Marx,
eksistensialisme Heiddeger, Taoisme Lao Tsu, wihdatul wujud al-Hallaj, semuanya
adalah pandangan tentang dunia. Setiap pandangan tentang dunia ataupun mazhab
pemikiran pasti akan memperbincangkan konsep manusia sebagai konsep sentral.[42]
Salah satu tema sentral dalam ideologi politik
keagamaan Syari’ati adalah agama – dalam hal ini, Islam – dapat dan harus
difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat
yang tertindas, baik secara kultural mapun politik. Lebih tegas lagi, Islam
dalam bentuk murninya – yang belum dikuasai kekuatan konservatif – merupakan
ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari penjajahan politik,
ekonomi dan kultural Barat. Ia merupakan problem akut yang dimunculkan
kolonialisme dan neo-kolonialisme yang mengalienasikan rakyat dari akar-akar tradisi
mereka.[43] Atas dasar ini, maka
banyak pengamat menyebut Syari’ati sebagai “the ideologist of
revolt”.[44]
Pandangan
Ali Syari’ati ini, senada dengan pandangan Antonio Gramsci, yang menyatakan
bahwa ideologi, lebih dari sekedar sistem ide. Ideologi secara historis
memiliki keabsahan yang bersifat psikologis (ideologi memberikan spirit
perjuangan). Selain itu, ideologi mengatur dan memberikan tempat bagi manusia
untuk bergerak dan, mendapatkan kesadaran mengenai posisi mereka maupun
perjuangan mereka dalam kehidupannya.[45]
Syari’ati menjelaskan tentang proses berubahan agama
dari ideologi menjadi sebuah institusi sosial. Munculnya agama sebagai
ideologi, papar Syari’ati, dimulai ketika para Nabi muncul di tengah-tengah
suku-suku dan pemimpin gerakan-gerakan historis untuk membangun dan menyadarkan
masyarakat. Ketika para nabi itu memproklamirkan semboyan-semboyah tertentu
dalam membantu massa kemanusiaan, maka para pengikut Nabi kemudian mengelilingi
nabi dan menyatakan untuk turut bersama-sama Nabi dengan sukarela. Dari sinilah,
menurut Syari’ati, munculnya agama sebagai ideologi. Namun kemudian, agama itu
kehilangan semangat aslinya dan mengambil bentuk agama sebagai institusi
sosial.[46]
Islam lahir secara progresif dalam upaya merespon
problem-problem masyarakat dan memimpin masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan
dan cita-cita yang berharga. Dalam hal ini, Islam dipahami sebagai sebuah
pandangan dunia yang komprehensif, dan diposisikan sebagai “agama pembebasan”
yang concern dengan isu-isu sosial-politik
seperti penindasan, diskriminasi, ketidakadilan dan sebagainya. Semangat Islam
sebagai ideologi pembebasan mendorong terjadinya revolusi masyarakat Islam
untuk membangun konstruksi peradaban baru yang progresif, partisipatif, tanpa
penindasan dan ketidakadilan.
Dalam konteks global Syari’ati melihat ada problem
besar masa depan dunia Islam, yaitu kolonialisme dan neo-kolonialisme oleh
Barat. Hal ini telah mengalienasi masyarakat Muslim dari kebudayaan aslinya (turâts),
karena mereka mau tidak mau harus mengikuti alur kebudayaan dan pola pikir yang
telah “dipaksakan” oleh pihak kolonialis maupun neo-kolonialis. Senada dengan
Syari’ati, Hasan Hanafi juga melihat bahwa kolonialisme atau westernisasi
mempunyai pengaruh luas terhadap dunia Timur (Muslim), tidak hanya pada budaya
dan konsepsi tentang alam, tetapi juga mengancam kemerdekaan peradaban. Bahkan,
masih menurut Hanafi, juga merambah pada gaya kehidupan sehari-hari: bahasa,
menifestasi kehidupan umum dan seni bangunan. Tidak hanya itu, keterbukaan
ekonomi memaksa dunia Islam untuk membuka diri terhadap kapitalisme
internasional, demikian juga dengan keterbukaan bahasa, maka konsekwensinya
harus menerima kehadiran bahasa asing.[47]
Syari’ati memandang saat itu kolonialisme dan
westernisasi telah melanda negara Dunia Ketiga tak terkeculai Iran. Akibat yang
timbul dari hal itu adalah munculnya bentuk-bentuk korporasi multi-nasional,
rasisme, penindasan kelas, ketidakadilan, dan mabuk kepayang terhadap Barat (Westoxication). Ia
menyatakan bahwa kolonialisme Barat dan kepincangan sosial sebagai musuh
terbesar masyarakat yang harus diberantas dalam jangka panjang. Tetapi untuk
jangka pendek, menurut Syari’ati, ada dua musuh yang harus segera dimusnahkan:
pertama, Marxisme vulgal – menjelma terutama dalam Marxisme-Stalinisme – yang
banyak digemari para intelektual dan kaum muda Iran, dan kedua, Islam
konservatif sebagaimana dipahami kaum mullahyang menyembunyikan Islam revolusioner dalam jubah ketundukan
kepada para penguasa.[48]
Pertama-tama Syari’ati berusaha melakukan ideologisasi
Islam dengan menunjukkan karakteristik revolusioner Islam. Ia berupaya
membuktikan bahwa Islam agama yang sangat progresif, agama yang menentang
penindasan. Syari’ati sangat antusias untuk membuktikan perlunya suatu
reformasi bagi pemahaman Islam yang benar, sehingga dibutuhkan figur-figur yang
mampu memimpin masyarakat kepada perubahan paradigma dan mental masyarakat.
Mereka itulah yang menurut Syari’ati disebut para pemikir tercerahkan (rausanfikr).
Kemudian Syari’ati menunjukkan bahwa Islam merupakan akar budaya masyarakat
Iran yang telah lama mendarah daging. Dengan demikian masyarakat Iran harus
kembali kepada warisan budaya Islam jika menginginkan perubahan.
Untuk mengkonstruksi Islam sebagai sebuah ideologi,
mula-mula Syari’ati melakukan redifinisi tentang pemahaman ideologi itu sendiri
Syari’ati menjelaskan bahwa ideologi terdiri dari kata “ideo” yang berarti
pemikiran, gagasan, konsep, keyakinan dan lain-lain, dan kata “logi” yang
berarti logika, ilmu atau pengetahuan. Sehingga ideologi dapat diartikan
sebagai ilmu tentang keyakinan dan cita-cita.[49]
Ideologi, lanjut Syari’ati, menuntut agar kaum intelektual bersikap setia (commited). Ideologilah yang mampu merubah masyarakat, sementara ilmu dan
filsafat tidak, arena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan,
tanggungjawab dan keterlibatan untuk komitmen. Sejarah mengatakan, revolusi,
pemberontakan hanya dapat digerakkan oleh ideologi.[50]
Dengan berpijak pada al-Qur’an,
Syari’ati melihat keseluruhan sejarah sebagai sebuah konflik kekuatan-kekuatan,
sementara itu manusia sendiri menjadi medan perang antara asal jasmaniahnya
yang rendah dan semangat Ketuhanannya. Dialektika sejarah seperti ini sangat
mudah diidentifikasi meminjam konsep dialektika sejarah Marxis, meskipun tidak
secara keseluruhan.[51]
Untuk mewujudkan pribadi
autentiknya, manusia semestinya tidak hanya menanggapi isyarat-isyarat
eksternal, namun juga isyarat-isyarat mistis, kualitas-kualitas spiritual di
dalam. Dengan demikian mereka akan semangkin dekat kepada Tuhan yang jauh dan
tidak terpahami, Tuhan yang menyatukan semesta.[52]
Syariati menekankan keunggulan
kekuatan-kehendak dan kemauan sebagai motor perubahan sejarah. Menggemakan
dengan sangat nyaring bagaikan voluntaris revolusioner, dia mencela Marx,
karena tidak memahami pentingnya dan peranan kekuatan-kekuatan revolusioner.
Kehendak dan keteguhan hati untuk memprakarsai perubahan dan menciptakan sebuah
masyarakat yang berbudi harusdidorong
dan dimotivasi oleh suatu ideologi revolusioner.
Syariati sangat yakin bahwa
ideologi Islamnya akan mentebarkan suatu kesadaran sosial dan suatu keyakinan
yang pada akhirnya akan membangkitkan ‘dorongan dan energi ajaib’ yang mengarah
kepada revolusi sosial. Memuji kekuatan dan signifikansi kekuatan-kehendak yang
bersandar pada kesadaran, dia menegaskan bahwa ‘suatu kesadaran individu yang
siaga’ bisa ‘merebut sejarah dengan collar’ dan menggerakkannya dari feodalisme
ke sosialisme’, yang dengan demikian
mengacu pada tahap-tahap perkembangan historis yang tertib dan determinisme
historis.
Kemudia, dalam istilah yang lebih
tersurat, Syariati menegaskan bahwa ‘para penjaga revolusioner’ memiliki
kesanggupan dan kemampuan untuk menjalankan revolusi sosial. Mereka pun dapat
mengarahkan kemampuan ‘sekelompok
intelektual yang tercerahkan’ guna memaksa sejarah untuk melampaui
tahap-tahap perkembangan yang telah ditentukannya (Ali Rahnema, 2002: 451).
Para intelektual mungkin lebih
banyak tertarik dengan sistem pemikiran dari sebuah agama. Tetapi ada dari
sebagian mereka yang mererima sistem pemikiran itu sebagai sebuah sistem yang
telah diwariskan kepada mereka, serta ada juga sebagian dari mereka yang sangat
intens dalam pemikiran dan memandang perlunya rethingking terhadap
sistem pemkiran. Dalam sebuah masyarakat yang stagnan dan tertutup, peluang
semacam itu lebih kecil. Masyarakat Islam awal sangatlah dinamis memiliki
vitalitas yang tinggi. Islam dapat menciptakan sebuah revolusi yang hebat,
tidak dalam bidang agama tetapi juga dalam bidang sosial dan ekonomi. Ia telah
membalikkan seluruh kepercayaan dan ideologi-ideologi lama. Islam memberikan
umat manusia sebuah sistem nilai baru dan memperkuat sensivitas kemunusiaan
mereka untuk melakukan perubahan menuju kepada suatu yang lebih baik. Islam
menaruh perhatian yang besar terhadap perubahan dan mempertanyakan segala
sesuatu yang telah berlangsung lama. Ia mendorong manusia untuk memikirkan
kembali kepercayaan-kepercayaan nenek moyang mereka. Segala sesuatu yang dipercayai
oleh nenek moyang tersebut tidaklah seluruhnya benar dan berguna.[53]
G.
Kesimpulan
Menyeru Kepada Tauhid. Tauhid sebagai dasar ajaran Islam yang utama telah
mengalami perluasan ekoran perdebatan para ulama ilmu kalam, sehingga
penafsiran Tauhid menjadi samar dan tidak jelas. Munculnya perdebatan yang
terus-menerus tentang fungsi akal dan wahyu, kebebasan manusia dalam perbuatan,
kedudukan orang-orang yang berdosa besar, dan lain-lain telah menjadikan makna
Tauhid hanya berputar di ruang-ruang seminar yang disarati dengan sejumlah
argumantasi ketuhanan yang serba rumit.
Pembaharuan Islam Syi’ah. Bagi
Syi’ah, imamah merupakan ajaran pokok yang sangat penting, dimana tidak
sempurna iman seseorang kecuali dengan meyakini kebenarannya. Syi’ah
beranggapan bahwa barang siapa yang tidak bermazhab dengan mazhab mereka dalam
hal imamah, maka dia bukan mikmin. Kendatipun terdapat perbedaan dalam
menafsirkan bukan mukmin tersebut.
Konsep Intizar Dalam Ajaran Syi’ah. Konsep intizat telah diakui oleh kalangan Syi’ah sejak
hilangnya imam Syi’ah yang kedua belas. Dalam arti yang sangat umum, intizar
berati keyakinan agama yang berdimensi eskatologis yang mengilhami seorang
muslim untuk menunggu akhir zaman, kedatangan juru selamat, kebangkitan sesudah
mati dan pengadilan akhir.
Gerakan Islam Revolusioner dan Marxisme. Islam lahir secara progresif dalam upaya
merespon problem-problem masyarakat dan memimpin masyarakat untuk mencapai
tujuan-tujuan dan cita-cita yang berharga. Untuk
mewujudkan pribadi autentiknya, manusia semestinya tidak hanya menanggapi
isyarat-isyarat eksternal, namun juga isyarat-isyarat mistis, kualitas-kualitas
spiritual di dalam. Dengan demikian mereka akan semangkin dekat kepada Tuhan
yang jauh dan tidak terpahami, Tuhan yang menyatukan semesta.
Wa Allah a’lam bi al-S{awa>b
Ma> al-Taufiq wa
al-H{ida>yah illa> bi Alla>h
DAFTAR PUSTAKA
Ali Al Salus, Ensiklopedi Sunni-Syi’ah, Pustaka
Al-Kausar, Jakarta, 2001
Ali Syari’ati, Ideologi
Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam (Bandung: Mizan, 1994)
Azyumardi
Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar Ideologi Iran”
dalam Historiografi Islam Kontemporer
: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah,
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002)
Azyumardi Azra, Historiografi Islam
Kontemporer,
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002)
Charles Kurzman, Ed, “Islam dan Kemanusiaan” dalam Wacana
Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global,
(Jakarta: Paramadina, 2001).
Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia
1900-1942 (Jakarta: LP3ES, 1980)
John L.
Esposito (ed), “Ali Syariati, Ideolog Revolusi Iran”, dalam Dinamika Kebangunan Islam :
Watak, Proses, dan Tantangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 1987).
Khairunnas Jamal, “Konsep Intizar Menurut Ali Syariati”
dalam Jurnal Ushuluddin, Volume VI, Nomor 2, (Juli-Desember 2003), 69.
M. Natsir, Islam Sebagai Ideologie, edisi ke-2
(Jakarta: Penyiaran Ilmu, 1951).
Nikki R Keddie, Root of Revolution:
An Interpretative History of Modern Iran (New Haven: Yale University Press,
1981)
Roger
Simon, Pemikiran Politik Gramsci (Cet, I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999).
Saifullah, “Tauhid, Imamah dan Peradaban Barat:
Menelusuri Pemikiran Ali Syari’ati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume V
nomor 2, (Juli- Desember 2002)
Syarifuddin
Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam
Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi Islam & Masyarakat Modern :
Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010).
*Penulis
adalah alumni SMA Yapita, Surabaya. Kini menjadi mahasiswi Jurusan Pendidikan
Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. kini
sedang Studi Program Sarjana (S1) dialmamaternya, Pekanbaru.
[1]Azyumardi Azra, Historiografi Islam
Kontemporer,
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 236.
[2] pertama,
gerakan yang memandang agar seharusnya umat Islam harus kembali ke pangkal;
menghilangkan semua khurafat dan bid’ah serta kembali kepada Al-Qur’an dan
Al-Sunnah. Seperti yang dikenal dengan gerakan Wahabiah, dengan tokohnya Muhammad
bin Abdul Wahhab. Kedua, gerakan yang memandang agar umat
Islam kembali pada persatuan dan keluar dari lingkup penjajahan bangsa lain.
Salah satu tokohnya ialah Jamaluddin al-Afghani. Ketiga, gerakan yang melihat bahwa keterbelakangan umat Islam
adalah tertutupnya pintu ijtihad. Karena mereka melihat bahwa Ijtihad merupakan
jalan keluar agar umat Islam dapat kembali membangun peradabanya, dengan
menerapkan Rasional-Liberal dengan mengambil nilai-nilai dari Negara yang maju
taraf kehidupannya yang relevan dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Salah satu Tokohnya ialah Muhammad Abduh. (penulis dapati tulisan ini dalam
makalah Alimuddin Hassan Palawa dengan judul Syeid Amer Ali untuk tugas mata kuliah Pemikiran Modern Dalam
Islam 7 mei 2002).
[3] Islam “dari
permulaan merupakan suatu masyarakat politik”, kata Sir Mohammad Iqbal, The
Reconstructuon of Religious Thought in Islam (Lahore: Shaikh Muhammad
Ashraf, 1951), halaman 153. H.A.R. Gibb mengatakan di dalam Whither Islam
(London: Victor Gollancz Ltd., 1932), halaman 12, “Sebenarnya Islam merupakan
lebih dari sekedar suatu sistem teologi saja, Islam adalah suatu peradaban yang
komplit”.
[4] M. Natsir,
Islam Sebagai Ideologie, edisi ke-2 (Jakarta: Penyiaran Ilmu, 1951).
[5] Deliar
Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 (Jakarta: LP3ES,
1980), cet. I, 1-2.
[6] Khairunnas Jamal, “Konsep
Intizar Menurut Ali Syariati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume VI, Nomor
2, (Juli-Desember 2003), 69.
[7] John L. Esposito (ed), “Ali Syariati, Ideolog
Revolusi Iran”, dalam Dinamika
Kebangunan Islam : Watak, Proses, dan Tantangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 1987), 249.
[8] Saifullah, “Tauhid, Imamah dan Peradaban Barat:
Menelusuri Pemikiran Ali Syari’ati” dalam Jurnal Ushuluddin, Volume V
nomor 2, (Juli- Desember 2002), 70-71.
[9] Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar
Ideologi Iran” dalam Historiografi Islam
Kontemporer : Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 209
[10] Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar
Ideologi Iran” dalam Historiografi
Islam Kontemporer : Wacana, Aktualitas,
dan Aktor Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 215.
[11] Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah Masa Depan Umat dan Akar-Akar
Ideologi Iran” dalam Historiografi Islam
Kontemporer : Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 209
[12]
Khairunnas Jamal, “Konsep Intizar Menurut Ali Syariati” dalam Jurnal
Ushuluddin, Volume VI, Nomor 2, (Juli-Desember 2003), 70.
[13] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam
Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi Islam & Masyarakat Modern :
Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 147-148.
[14] Ali Syari’ati, Haji, terj. Anas Mahauddin, (Pustaka,
Bandung, 2000), 5.
[15] Khairunnas Jamal, “Konsep Intizar Menurut Ali Syariati”
dalam Jurnal Ushuluddin, Volume VI, Nomor 2, (Juli-Desember 2003), 70.
[16] Charles Kurzman, Ed, “Islam dan Kemanusiaan” dalam Wacana
Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global,
(Jakarta: Paramadina, 2001), 299.
[17] John L. Esposito (ed), “Ali Syariati, Ideolog Revolusi Iran”, dalam Dinamika Kebangunan Islam :
Watak, Proses, dan Tantangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 1987), 237-238.
[18] Azyumardi Azra, “Ali Syari’ati: Sejarah
Masa Depan Umat dan Akar-Akar Ideologi Iran” dalam Historiografi Islam Kontemporer : Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), 210.
[19] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam
Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi
Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 149.
[20] John L. Esposito (ed), “Ali Syariati, Ideolog
Revolusi Iran”, dalam Dinamika
Kebangunan Islam : Watak, Proses, dan Tantangan, ( Jakarta: Rajawali Pers, 1987), 240.
[21] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam
Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi
Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 150.
[22] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam
Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi
Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010),
149-150.
[23] Syarifuddin Jurdi, “Ali Syari’ati dan Sosiologi Islam: Menawarkan Islam
Progresif dan Berkemajuan” dalam Sosiologi
Islam & Masyarakat Modern : Teori, Fakta, dan Aksi Sosial, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), 152.
[24] Quran, S. 2:30. Dalam Islamsinasi ia membahas arti
dinamis tauhid yang dikatakan diperolehnya dari ayahnya M. Syariati, hlm
74-114. Lihat juga catatan kaki 52 pada halaman 123. Untuk pembahasan
tauhidnya, lihat di bawah.
øŒÎ)ur tA$s% š•/u‘ Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ’ÎoTÎ) ×@Ïã%y` ’Îû ÇÚö‘F{$# Zpxÿ‹Î=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ߉šøÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡o„ur uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ωôJpt¿2 â¨Ïd‰s)çRur y7s9 ( tA$s% þ’ÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
"Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami
Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
sumber :http://winonahaniifa.blogspot.co.id/2014/11/pemikiran-ali-syariati.html
Komentar
Posting Komentar